Merasa Miskin di Hadapan Allah, Al Habib Hasan: Kunci Doa yang Khusyuk dan Mustajab

  • 14 Jul 2026 08:38 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Merasa lemah dan bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT merupakan salah satu kunci agar doa dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan. Sebaliknya, ketika seseorang masih mengandalkan kemampuan dirinya, doa yang dipanjatkan sering kali hanya menjadi rutinitas tanpa penghayatan yang mendalam.

Hal tersebut disampaikan Al Habib Hasan bin Ismail Al Muhdhor dalam tausiahnya yang dikutip dari TV Alwafa Tarim, Kamis 9 Juli 2026. Menurutnya, banyak orang berdoa hanya sebagai simbol, karena masih merasa memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan hidupnya sendiri.

"Karena Allah masih memberi kita sedikit kemampuan, nafsu membuat kita merasa tidak terlalu terpaksa memohon kepada Allah," ujar Al Habib Hasan.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut menyebabkan doa menjadi kurang khusyuk dan tidak disertai rasa ketergantungan sepenuhnya kepada Allah SWT. Padahal, hakikatnya setiap manusia adalah hamba yang fakir dan selalu membutuhkan pertolongan-Nya dalam setiap keadaan.

Mengutip nasihat Al Habib Abdullah Al Haddad dalam salah satu qasidahnya, Al Habib Hasan mengingatkan pentingnya menyadari kefakiran di hadapan Allah. "Aku ini miskin." Menurutnya, kesadaran itulah yang akan melahirkan kerendahan hati dan menjauhkan seseorang dari sikap mengandalkan diri sendiri.

Al Habib Hasan bin Ismail Al Muhdhor dalam tausiahnya yang dikutip dari TV Alwafa Tarim. (Foto: Youtube TV Alwafa Tarim)

Ia menegaskan, tidak ada daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah, sebagaimana terkandung dalam kalimat La haula wa la quwwata illa billah. Kemuliaan seorang hamba justru hadir ketika ia tidak membanggakan usaha, ilmu, maupun pertolongan manusia, melainkan bersandar sepenuhnya kepada Allah SWT.

"Sayangnya, nafsu sering membuat kita lupa," katanya. Menurutnya, ketika seseorang berada dalam kondisi sehat dan berkecukupan, doa sering dipanjatkan tanpa kesungguhan. Namun, saat tertimpa musibah atau kehilangan kemampuan, barulah ia menyadari bahwa tidak ada penolong selain Allah.

"Baru saat itu kita berseru, 'Ya Allah.' Padahal, kita membutuhkan Allah setiap detik," ujar Al Habib Hasan.

Ia menambahkan, para auliya dan orang-orang saleh senantiasa hidup dalam keadaan iftiqār, yakni merasa sangat membutuhkan Allah SWT. Kesadaran itu seharusnya juga dimiliki setiap muslim, sebab seluruh nikmat kehidupan, termasuk kesehatan dan kekuatan, sepenuhnya berada dalam kehendak Allah.

Menurutnya, manusia kerap merasa mampu karena masih diberi kesehatan. Padahal, apabila Allah menghentikan fungsi salah satu anggota tubuh atau detak jantung, manusia tidak lagi memiliki daya untuk berbuat apa pun.

Meski demikian, Al Habib Hasan mengingatkan bahwa bertawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar. Setiap muslim tetap diperintahkan bekerja, belajar, dan berusaha semaksimal mungkin, seraya meyakini bahwa segala hasil hanya terjadi atas izin dan takdir Allah SWT.

Di akhir tausiahnya, Al Habib Hasan mengajak umat Islam untuk senantiasa menjaga hati agar selalu merasa fakir di hadapan Allah serta memanjatkan doa dengan penuh ketulusan, bukan sekadar sebagai rutinitas.

"Karena di saat kita merasa paling lemah, di saat itulah pertolongan Allah paling dekat," ucapnya.

Wallahu a'lam bishawab. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan hidayah dan taufik kepada seluruh umat-Nya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....