Eksplorasi Lintas Genre dan Teknologi Jadi Solusi Rawat Bahasa Kutai

  • 30 Jun 2026 09:58 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Upaya penyelamatan bahasa daerah dari ancaman kepunahan di era digital kini memerlukan terobosan kreatif yang keluar dari pakem konvensional. Salah satu langkah taktis yang dinilai efektif adalah mengawinkan lirik berbahasa Kutai ke dalam berbagai genre musik modern seperti rock, pop, dan dangdut. Pendekatan lintas genre yang dikombinasikan dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dipercaya mampu menarik minat generasi muda secara masif.

Melalui program dialog budaya Pantas Kutai di RRI Pro 4 Samarinda pada Rabu 3 Juni 2026, wacana modifikasi karya seni tradisional ini mencuat sebagai respons atas mulai hilangnya penutur asli bahasa Kutai di perkotaan. Dengan menyisipkan kosakata bahasa Kutai ke dalam ketukan musik pop atau distorsi musik rock, pendengar dari luar daerah secara tidak langsung akan terstimulasi untuk mencari arti kata tersebut. Pola edukasi bawah sadar inilah yang ingin dikejar oleh para penggiat seni di Kalimantan Timur.

Seorang pemerhati budaya sekaligus pendengar setia RRI, Busu Amai, mengusulkan agar para musisi lokal tidak ragu untuk memanfaatkan teknologi terkini guna memperluas jangkauan pendengar. "Dioper itu, dimodif bisa pakai AI. Nah, jadi karya seninya itu dikabulasikan ke pop, ke rock, ke dangdut, pokoknya semua gender nanti sehingga gasa galanya (untuk semuanya)," ujarnya memberikan masukan.

Menurutnya, langkah ini akan menciptakan efek kejut psikologis bagi pendengar baru, terutama setelah posisi Ibu Kota Nusantara (IKN) resmi berpindah ke tanah Kalimantan. Ketika masyarakat luar mendengar lagu dengan aransemen cadas namun liriknya asing, interaksi budaya akan tercipta secara alami. Lambat laun, istilah lokal seperti jukut untuk menyebut ikan dan manuk untuk ayam akan populer dengan sendirinya.

"Wih apa ini? Tapi ini kan lagu rock ini, tapi kok bahasa apa ini? Ini bahasa Kutai. Nah, sedikit demi sedikit dia orang paham," ujar Busu Ipay, salah satu narasumber menggambarkan skenario pengenalan bahasa lewat musik modern. Jangkauan distribusinya pun kini jauh lebih mudah berkat fitur berbagi tautan di platform video digital global.

Merespons gagasan tersebut, seniman musik tradisi dan sekaligus narasumber, Busu Zoel, menyambut baik peluang kolaborasi modernisasi tanpa harus menghilangkan identitas asli kesenian tingkilan. Selama hampir empat tahun merambah musik tradisi, ia mengakui bahwa metode penyampaian pesan melalui nada jauh lebih cepat melekat di ingatan masyarakat luas. Format kolaborasi pop-modern yang ramah di telinga menjadi jembatan awal sebelum memperkenalkan bahasa tingkat lanjut.

"Langkah ini harus bertahap, artinya supaya orang tahu dulu. Ada lagu tingkilan versi pop modern dikolaborasikan, di situ ada bahasa Kutainya, ada bahasa Indonesianya," ujar Busu Zoel. Langkah adaptif ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian bahasa daerah tidak harus kaku, melainkan bisa tumbuh selaras dengan perkembangan tren industri musik dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....