Kisah Bilal bin Rabah dan Adzan Terakhir setelah Wafatnya Rasulullah SAW

  • 24 Jun 2026 06:56 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Bilal bin Rabah tidak lagi sanggup mengumandangkan adzan. Setiap kali hendak melantunkan panggilan salat itu, air matanya selalu tumpah. Nama Nabi Muhammad SAW yang disebut dalam adzan selalu mengingatkannya pada sosok yang sangat ia rindukan.

Dikutip dari Islami.co, Selasa 23 Juni 2026, hingga suatu hari warga Madinah meminta Bilal kembali mengumandangkan adzan. Mereka merindukan suara yang dahulu membangunkan kota setiap waktu Subuh.

Permintaan Umar Bin Khattab

Jauh dari Madinah, di Syam, tiga orang tengah berkumpul. Dua di antaranya bertubuh kekar, seorang berkulit hitam legam dan seorang lagi berkulit putih bersih. Sementara orang ketiga hanya diam mendengarkan percakapan mereka.

"Ada apa, Umar?" tanya lelaki berkulit hitam itu.

Ia adalah Bilal bin Rabah. Di hadapannya berdiri Sayyidina Umar bin Khattab, khalifah kedua pengganti Rasulullah SAW.

"Penduduk Madinah menginginkanmu kembali mengumandangkan adzan, Bilal," ujar Umar.

Bilal tertegun. Matanya berkaca-kaca.

"Aku tidak bisa, Umar. Aku tidak akan mampu melakukannya lagi," katanya lirih.

Umar terdiam. Ia memahami perasaan Bilal. Begitu pula Aslam Al-Qurasy yang berdiri di sampingnya. Mereka mengetahui luka mendalam yang masih disimpan Bilal sejak wafatnya Rasulullah SAW.

"Tetapi umat Muslim di Madinah membutuhkanmu, Bilal. Mereka ingin mendengarkanmu mengumandangkan adzan. Mereka merindukan suaramu, wahai muadzin Rasulullah," ucap Umar membujuk.

Namun Bilal masih teringat saat dirinya meminta izin kepada khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, untuk berhenti menjadi muadzin dan meninggalkan Madinah.

Alasannya hanya satu, yakni kerinduan yang mendalam kepada Rasulullah SAW yang tidak mungkin lagi menemaninya seperti dahulu.

Kenangan Bilal Bersama Rasulullah

Pikiran Bilal melayang ke masa lalu. Ia mengenang ketika Rasulullah SAW pertama kali memintanya mengumandangkan adzan setelah Masjid Nabawi selesai dibangun.

Ia juga mengingat saat Rasulullah memintanya naik ke atas Ka'bah untuk mengumandangkan adzan pada peristiwa Fathu Makkah.

Selama Nabi masih hidup, Bilal dikenal sebagai "Muadzin Rasulullah". Posisi itu tidak tergantikan dan diterima oleh seluruh kaum Muslimin.

Hati Bilal bergetar ketika mengingat sabda Rasulullah SAW kepadanya.

"Bilal, istirahatkanlah kami dengan salat."

Ia juga teringat ketika Rasulullah bersabda:

"Bilal, amal apa yang engkau kerjakan? Aku mendengar suara langkahmu di surga."

Setiap kali waktu salat tiba, Bilal mengumandangkan adzan. Setelah itu, ia berdiri di depan kamar Rasulullah SAW dan berkata:

"Wahai Rasulullah, marilah kita salat."

Kemudian ia kembali ke masjid dan menunggu Rasulullah keluar sebelum mengumandangkan iqamah.

Perintah Terakhir Rasulullah kepada Bilal

Bilal juga mengenang hari terakhir ketika ia mendatangi Rasulullah SAW. Pagi itu salat Subuh akan dilaksanakan. Seperti biasa, Bilal mendatangi kamar Nabi dan berkata: "Wahai Rasulullah, marilah kita salat."

Tak lama kemudian Rasulullah menjawab: "Perintahkanlah Abu Bakar menjadi imam dan dirikanlah salat".

Bilal segera menyampaikan perintah tersebut kepada Abu Bakar. Setelah itu, Abu Bakar maju ke depan untuk mengimami salat berjamaah.

Beberapa saat kemudian Rasulullah SAW keluar dari kamarnya dengan dipapah oleh dua orang sahabat. Beliau berjalan mendekati Abu Bakar yang sedang mengimami salat.

Melihat Rasulullah datang, Abu Bakar perlahan mundur untuk memberikan tempat kepada beliau. Namun Rasulullah duduk di samping Abu Bakar dan memimpin salat, sementara Abu Bakar mengeraskan takbir agar dapat didengar oleh para jamaah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....