Perbedaan Ilmiah Kalender Hijriah dan Masehi Berdasarkan Perspektif Astronomis

  • 17 Jun 2026 09:05 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Sistem penanggalan merupakan salah satu aspek krusial dalam peradaban manusia yang berfungsi sebagai acuan waktu, kegiatan sosial, hingga peribadatan. Dalam program Mutiara Pagi di Pro1 RRI Samarinda, Ustaz Muhammad Khozin mengupas tuntas dinamika astronomis yang melatarbelakangi penciptaan kedua sistem penanggalan ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia secara umum menggunakan dua jenis kalender utama, yaitu kalender Masehi dan kalender Hijriah. Kendati keduanya digunakan secara berdampingan, masih banyak masyarakat yang belum memahami landasan ilmiah dan perbedaan mendasar dari kedua sistem tersebut.

Secara ilmiah, perbedaan mendasar terletak pada objek samawi yang dijadikan sebagai acuan pergerakan. Penentuan hari, bulan, dan tahun pada masing-masing kalender menggunakan formula matematis alam semesta yang berbeda namun sama-sama akurat.

Kalender Masehi yang diadopsi secara internasional bersandar sepenuhnya pada pergerakan bumi mengelilingi matahari. Sistem ini mengukur durasi satu tahun berdasarkan waktu yang dibutuhkan planet bumi untuk menyelesaikan satu putaran orbit penuh terhadap pusat tata surya. Pendekatan berbasis matahari ini memberikan kepastian matematis yang berbeda dibanding sistem berbasis bulan.

"Kalender Masehi didasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari yang disebut kalender syamsiah atau matahari, sedangkan kalender Hijriah mengacu pada peredaran bulan mengelilingi bumi yang disebut kalender kamariah atau lunar,” ujar Ustaz Khozin, dikutip Rabu 17 Juni 2026.

Sebaliknya, kalender Hijriah yang menjadi pedoman umat Islam menggunakan revolusi bulan terhadap bumi sebagai fondasi utamanya. Setiap pergantian bulan ditandai dengan munculnya fase bulan baru atau hilal, yang memerlukan pengamatan visual (rukyat) maupun perhitungan matematis (hisab). Hal inilah yang menyebabkan penentuan tanggal dalam kalender Islam sangat dinamis dan kerap memerlukan konfirmasi berkala.

Implikasi logis dari perbedaan acuan astronomis tersebut berdampak langsung pada jumlah hari kumulatif dalam satu tahun. Kalender syamsiah memiliki durasi tahunan yang lebih panjang karena peredaran bumi mengelilingi matahari memakan waktu sekitar 365 hari. Sementara itu, akumulasi dua belas siklus sinodis bulan hanya memakan waktu sekitar 354 hingga 355 hari saja.

"Perbedaan sistem ini berdampak pada selisih jumlah hari dalam setahun, di mana kalender lunar lebih pendek sekitar 11 hari dibanding kalender solar,” kata Ustaz Khozin.

Melalui pemaparan ini, masyarakat diharapkan dapat memandang perbedaan penanggalan bukan sebagai sebuah pertentangan, melainkan sebagai bentuk kekayaan ilmiah. Pemahaman mengenai kalender syamsiah dan kamariah membuktikan bahwa aturan syariat Islam senantiasa selaras dengan hukum alam dan sains. Hal ini sekaligus menjadi bukti keagungan penciptaan alam semesta yang teratur.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....