Meneladani Nabi Yunus dalam Menghadapi Tekanan Hidup

  • 11 Jun 2026 21:52 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Tekanan hidup yang bertubi-tubi terkadang membuat seseorang merasa berada di titik terendah hingga mengalami keputusasaan. Dalam program Mutiara Pagi di Pro1 RRI Samarinda, Ustaz Arip Saripudin mengajak para pendengar untuk melakukan tadabur mendalam terhadap Al-Qur'an Surah Al-Anbiya ayat 87-88, yang memuat kisah monumental Nabi Yunus saat berada di dalam perut ikan.

Ustaz Arip menyampaikan, kisah Nabi Yunus merupakan potret nyata dari hambatan psikologis dan fisik paling ekstrem yang pernah dialami manusia. Ketika ia meninggalkan kaumnya dalam kondisi marah karena dakwahnya ditolak, Allah Swt kemudian mengujinya dengan kesempitan di dalam samudra luas.

Secara metaforis dan faktual, Nabi Yunus harus mengalami cobaan berlapis yang disebut sebagai puncak dari segala bentuk kegelisahan saat ini (al-ghamm). Kondisi ini dinilai sangat relevan dengan masyarakat modern yang kerap merasa terasing dan terhimpit oleh beban hidup.

"Puncak kegalauan itu kalau di dalam kajian atau mungkin bahasan jurnal, studi kasusnya adalah Nabi Yunus," ujar Ustaz Arip, dikutip Kamis, 11 Juni 2026.

Tiga lapis kegelapan dialami sekaligus oleh Nabi Yunus, yakni kegelapan malam, kegelapan di dasar laut, dan kegelapan di dalam perut ikan besar. Di tengah keputusasaan fisik yang total, tidak ada ruang bagi Nabi Yunus untuk memberontak selain menghadapkan hatinya secara mutlak kepada Allah Swt.

Melalui kondisi kritis tersebut, Al-Qur'an merekam momen transendental saat Nabi Yunus melantunkan doa pengakuan dosa yang legendaris, yaitu “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzalimin. yang berarti “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”. Doa inilah yang menjadi kunci pembuka pertolongan Allah Swt.

"Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan yang menahannya atau ketika ia berdoa dalam keadaan sangat sedih dan penuh kegelisahan, ia berdoa mengucapkan kalimat tersebut. Kemudian lalu Allah mengabulkan doa Nabi Yunus," kata Ustaz Arip.

Melalui teladan ini, Ustaz Arip menekankan bahwa kegalauan seberat apa pun bukanlah tanda akhir dari kehidupan. Sebaliknya, setiap kesempitan hidup sejatinya adalah sebuah pintu gerbang spiritual yang sengaja dibuka agar manusia kembali bersimpuh dan berserah diri sepenuhnya kepada kekuasaan Allah Swt.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....