Kesetaraan Peluang Perkuat Pemberdayaan Disabilitas Samarinda

  • 04 Jun 2026 08:07 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Semangat inklusi dan pemberdayaan kembali digaungkan melalui program Ruang Disabilitas dan Inklusi RRI Pro1 Samarinda. Mengusung tema “Merangkai Karya, Membuka Peluang”, program ini menyoroti pentingnya pelatihan keterampilan bagi penyandang disabilitas agar mampu berkembang secara mandiri, baik dari sisi ekonomi maupun sosial.

Kegiatan tersebut berkaitan dengan pelatihan menjahit dan merajut yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Kalimantan Timur bersama Kota Samarinda pada Mei lalu. Pelatihan itu melibatkan peserta inklusi, termasuk penyandang disabilitas tuli dan daksa, serta ibu-ibu kepala keluarga.

Owner Roda Seni Antaka, Emelda Andayani, menegaskan pelatihan tersebut bukan sekadar mengajarkan keterampilan teknis, melainkan juga membangun keberanian dan kepercayaan diri peserta. “Pelatihan ini bukan hanya tentang membuat produk, tetapi juga proses belajar. Kami ingin peserta berani mencoba dan mendapatkan peluang baru melalui keterampilan yang mereka miliki,” ujar Emelda saat dialog di RRI Samarinda.

Menurutnya, peserta diajarkan memanfaatkan bahan sederhana seperti kain perca, sulam tangan, dan teknik merajut menjadi karya bernilai ekonomis. Ia mengatakan, melalui proses kreatif tersebut peserta dapat memahami bahwa sesuatu yang tampak sederhana dapat dirangkai menjadi produk yang memiliki nilai jual dan manfaat.

Emelda juga menjelaskan bahwa Roda Seni Antaka yang berdiri sejak 2019 berfokus pada pelatihan dan produk fashion berbasis keterampilan tangan (handmade). “Kami membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin belajar menjahit, menyulam, membordir, hingga membuat kerajinan tangan. Saya ingin keterampilan handmade tetap hidup dan berkembang di Samarinda,” ucap Emelda, dikutip Kamis 4 Juni 2026.

Ke depan, Emelda berharap program pelatihan inklusif dapat terus berlanjut melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk organisasi penyandang disabilitas dan pemerintah daerah. Ia meyakini setiap individu memiliki potensi yang dapat dikembangkan. “Tidak ada orang yang tidak memiliki kemampuan. Tugas kita adalah membantu menemukan dan mengembangkan potensi tersebut agar menjadi kekuatan yang bermanfaat bagi masa depan mereka,” ujar Emelda.

Sementara itu, salah satu peserta pelatihan Roshi Wati, penyandang disabilitas daksa, mengaku awalnya tidak percaya diri mengikuti kegiatan menjahit karena keterbatasan fisik yang dimilikinya. Namun setelah mendapatkan pendampingan dari mentor, ia berhasil membuat tas dan produk sederhana lainnya. “Saya sempat berpikir tidak mungkin bisa menjahit karena hanya menggunakan satu tangan. Tetapi setelah mencoba dan dibimbing, ternyata saya mampu menghasilkan karya,” kata Roshi Wati.

Ia menambahkan, lingkungan pelatihan yang inklusif membuat seluruh peserta merasa setara. Tidak ada perlakuan berbeda antara peserta disabilitas dan non-disabilitas. “Mentornya sangat sabar dan tidak ada diskriminasi. Semua peserta diperlakukan sama sehingga rasa percaya diri saya tumbuh kembali,” ujar Roshi Wati.

Sejalan dengan Roshi, aktivis disabilitas Rica Rahim mengungkapkan keterlibatan penyandang disabilitas dalam berbagai program pelatihan merupakan langkah penting untuk mewujudkan kesetaraan. Ia mendorong agar setiap program pemerintah memberikan ruang partisipasi yang lebih luas bagi kelompok disabilitas.

“Saya selalu menyampaikan bahwa ketika ada pelatihan, penyandang disabilitas harus dilibatkan. Kesempatan yang setara akan membuka jalan bagi mereka untuk berkembang dan mandiri,” ucap Rica.

Ia menilai keberhasilan peserta seperti Rosiwati menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. “Awalnya banyak yang merasa ragu, tetapi setelah diberikan kesempatan dan pendampingan, hasilnya luar biasa. Ini menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil selama ada kemauan untuk mencoba,” kata Rica.

Melalui pelatihan keterampilan yang inklusif, semangat pemberdayaan disabilitas di Samarinda semakin menunjukkan hasil positif. Program seperti ini tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membuka peluang, meningkatkan kepercayaan diri, dan memperkuat kemandirian para peserta dalam kehidupan sehari-hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....