Keutamaan Puasa Dzulhijjah dan Hukum Puasa Sunnah bagi Istri dalam Islam

  • 19 Mei 2026 13:36 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Jakarta — Puasa sunnah pada 1 hingga 9 Dzulhijjah memiliki keutamaan besar dalam Islam. Namun, tidak semua umat Muslim dapat menjalankannya secara penuh karena adanya kondisi dan kewajiban tertentu yang harus diprioritaskan, termasuk bagi seorang istri terhadap suaminya.

Dilansir dari kajian Ngaji Halimah Alaydrus, pada Selasa 19/5/2026, Ustazah Halimah Alaydrus menjelaskan dalam hukum fikih, seorang istri tidak diperbolehkan menjalankan puasa sunnah tanpa izin suami apabila suaminya berada di rumah dan masih membutuhkan pelayanan serta perhatian dari istrinya.

“Ilmu memang harus disampaikan. Tidak boleh berpuasa sunnah dengan mengurangi hak yang wajib kita laksanakan, yaitu hak suami,” ujar Ustazah Halimah Alaydrus.

Ia menegaskan, ibadah sunnah tidak boleh membuat seseorang melalaikan kewajiban utama dalam rumah tangga. Misalnya, apabila puasa menyebabkan istri menjadi terlalu lemas hingga pekerjaan rumah tangga terbengkalai, anak-anak tidak terurus, atau kebutuhan keluarga tidak terpenuhi, maka kondisi tersebut tidak dianjurkan dalam Islam.

Menurutnya, seorang Muslim tidak boleh mendahulukan amalan sunnah apabila sampai mengurangi kewajiban yang telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, pelaksanaan puasa sunnah Dzulhijjah dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Bagi yang tidak mampu menjalankan puasa selama sembilan hari penuh, Ustazah Halimah menyarankan untuk berpuasa minimal tiga hari. Dari tiga hari tersebut, dua hari yang sangat dianjurkan adalah tanggal 8 Dzulhijjah atau Hari Tarwiyah dan tanggal 9 Dzulhijjah atau Hari Arafah.

Apabila masih belum memungkinkan menjalankan puasa tiga hari, umat Islam dianjurkan setidaknya melaksanakan puasa pada Hari Arafah. Hari tersebut jatuh satu hari sebelum Hari Raya Iduladha dan memiliki keutamaan yang sangat besar dalam Islam.

“Puasa Hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun, yaitu tahun yang lalu dan tahun yang akan datang,” kata Ustazah Halimah Alaydrus, mengutip hadis Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Ia juga menjelaskan, pelaksanaan puasa Arafah mengikuti penetapan rukyatul hilal di masing-masing daerah. Karena itu, umat Islam di Indonesia dianjurkan mengikuti jadwal resmi yang telah ditetapkan pemerintah dan otoritas keagamaan setempat.

Selain memiliki pahala besar, puasa Arafah juga diyakini menjadi salah satu amalan yang dapat menjaga seorang Muslim dari dosa-dosa di masa mendatang. Sayyidina Ibnu Abbas menyebut tidak banyak amalan yang dijanjikan penghapusan dosa hingga tahun berikutnya selain puasa pada Hari Arafah.

Melalui momentum 10 hari pertama Dzulhijjah, umat Islam diimbau memperbanyak ibadah, zikir, doa, dan amal saleh sesuai kemampuan masing-masing. Dengan begitu, keberkahan dan kemuliaan bulan Dzulhijjah dapat diraih tanpa mengabaikan kewajiban utama dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....