Menelusuri Akar Sejarah Ibadah Kurban sejak Manusia Pertama
- 16 Mei 2026 04:25 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Dari total dua belas bulan yang ada, terdapat empat bulan istimewa bagi umat Islam. Tiga bulan istimewa tersebut berurutan yaitu Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharram, serta satu bulan yang terpisah sendiri yaitu bulan Rajab.
Setelah melewati bulan Zulkaidah, kaum muslimin akan segera memasuki bulan agung Zulhijjah yang dikenal juga sebagai ayyamun nahr atau bulan haji dan kurban. Hal ini disampaikan oleh Ustaz Fatholis dari Dana Peduli Umat (DPU) Kalimantan Timur lewat siaran Mutiara Pagi, dikutip Sabtu 16 Mei 2026.
"Begitu istimewanya kurban ini sehingga Allah Subhanahu wa taala nanti meletakkan beberapa perintah kurban itu secara bertahap," kata Ustaz Fatholis.
| Baca juga: Menelusuri Sejarah Lahirnya Kalender Hijriah |
Kebanyakan masyarakat akan menjawab bahwa perintah berkurban pertama kali diturunkan pada zaman Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Namun, jika membuka literatur sejarah otentik melalui Al-Qur'an, perintah berkurban sesungguhnya sudah ada sejak manusia pertama yaitu Nabi Adam AS.
Sejarah awal mula kurban ini secara resmi diabadikan oleh Allah dalam Surah Al-Maidah ayat 27 yang mengisahkan perselisihan di antara dua putra Nabi Adam AS. Kisah tersebut menceritakan Habil dan Qabil, di mana Allah bertindak sebagai penengah dengan memerintahkan mereka berdua untuk mempersembahkan kurban.
"Nah, nanti bisa kita buka di dalam surah Al-Maidah ayat 27 ya. Di mana diceritakan dalam sejarah itu kisah perselisihan dua putra Nabiullahi Adam alaihi salam yaitu Habil dan Qabil yang kemudian Allah Subhanahu wa taala sebagai penengahnya dan Allah memerintahkan kepada mereka berdua untuk berkorban," ujar Ustaz Fatholis.
| Baca juga: Penyakit Hati yang tak Mati oleh Kurban |
Berdasarkan literatur kitab sejarah Al Bidayah wan Nihayah karya Imam Ibnu Katsir, perselisihan tersebut dipicu oleh aturan pernikahan silang bagi anak-anak Nabi Adam AS. Qabil merasa tidak puas dan timbul rasa hasad karena dia menolak dinikahkan dengan saudara kembar Habil yang bernama Labudda.
Rasa dengki di dalam dada Qabil inilah yang kemudian memicu pertikaian besar dan menjadi latar belakang turunnya perintah kurban. Melalui momentum kurban tersebut, Allah menguji keikhlasan serta ketakwaan dari masing-masing putra Nabi Adam AS.
Habil yang bekerja sebagai seorang peternak mempersembahkan domba terbaik yang gemuk dan sehat, sedangkan Qabil yang merupakan seorang petani justru menyerahkan sayur dan buah yang layu. Perbedaan kualitas persembahan ini mencerminkan kesungguhan hati masing-masing dalam menjalankan perintah penciptanya.
Pada akhirnya, Allah hanya menerima kurban milik Habil dengan tanda adanya api dari langit yang menyambar domba persembahannya di puncak bukit. Peristiwa bersejarah ini menjadi bukti nyata bahwa Allah senantiasa menerima amal ibadah yang didasari oleh ketakwaan dan keikhlasan yang tulus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....