Penyakit Hati yang tak Mati oleh Kurban

  • 06 Jun 2026 11:37 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Ibadah kurban secara lahiriah memang sudah usai, namun perjuangan batin yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ada penyakit yang tidak hilang oleh pisau kurban yang bisa menghancurkan amal ibadah.

Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Mustamin Fattah dari Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda dalam siaran Mutiara Pagi. Ia mengatakan penyakit hati pertama yang paling keras kepala dan sulit mati adalah kesombongan.

"Karena ada orang yang rajin ibadah misalnya, tetapi sulit menerima nasihat. Ya, ada yang ilmunya sangat dalam tetapi ya anti kritik, tidak mau dikoreksi. Ada juga orang misalnya banyak amal kita, mungkin banyak amal kita, tetapi pada saat itu juga penyakit yang bisa muncul adalah kita selalu merasa lebih baik daripada orang lain," kata Ustaz Mustamin.

Ketika seseorang merasa amalnya sudah banyak atau pengetahuannya sangat luas, di situlah muncul perasaan tersembunyi bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain. Akibatnya, ia menjadi sosok yang keras dan menutup kuping rapat-rapat dari nasihat orang lain.

Selain kesombongan, penyakit hati kedua yang marak di zaman modern ini adalah sindrom selalu merasa paling benar sendiri. Kita hidup di era di mana banyak orang saat berdiskusi bukan lagi berniat untuk mencari kebenaran, melainkan hanya demi memenangkan perdebatan.

"Ketika berdiskusi apa yang dia cari bukan kebenaran, tetapi dia ingin membuktikan bahwa dirinyalah yang benar meskipun sebenarnya salah. Ya, ini penyakit setiap manusia," ujarnya.

Penyakit hati ketiga yang tidak kalah akutnya adalah sifat anti-kritik. Fenomena yang sering ditemui saat ini adalah banyaknya orang yang sangat suka berbicara, tetapi tidak suka mendengarkan orang lain secara seksama. Banyak yang gemar mengobral nasihat, tetapi mendadak sensitif dan marah ketika dinasihati balik.

Banyak yang begitu jeli dan rajin mengoreksi kesalahan orang lain sekecil apa pun, namun saat giliran diri sendiri yang melakukan kekeliruan, justru membentengi diri dengan berbagai alasan. Ustaz Mustamin mengingatkan bahwa siapa pun itu, baik rakyat biasa maupun para pejabat publik, tidak boleh memelihara rasa takut terhadap kritik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....