Akademisi Unmul: Ikan Sapu-Sapu Jadi Indikator Sungai Tercemar

  • 15 Mei 2026 11:20 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Meningkatnya kemunculan ikan sapu-sapu di berbagai perairan sungai dan danau di Indonesia menjadi perhatian kalangan akademisi. Spesies ini kerap dikaitkan dengan kondisi kualitas air yang menurun karena mampu bertahan di lingkungan dengan tingkat pencemaran tinggi.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman, Iwan Suyatna, dalam obrolan SPADA Pro2 Samarinda dikutip Jum'at, 15 Mei 2026, menjelaskan ikan sapu-sapu merupakan ikan dasar yang hidup di perairan berlumpur dan banyak mengonsumsi material organik dari sedimen sungai.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat ikan sapu-sapu lebih sering ditemukan di perairan dengan tekanan pencemaran tinggi. Keberadaan spesies ini sering dikaitkan dengan penurunan kualitas perairan di suatu ekosistem sungai.

“Kalau adik-adik memeriksa air tentang logam berat di laboratorium, kadang tidak ada logam beratnya. Tapi kalau dianalisis di ikannya, ikan dasar, logam berat yang tidak terdeteksi di kolom air, di ikan itu banyak,” kata Iwan dalam pembahasan mengenai kualitas perairan.

Ia menjelaskan, logam berat cenderung mengendap di dasar sungai dan bercampur dengan sumber makanan ikan sapu-sapu. Proses tersebut membuat zat pencemar masuk ke tubuh ikan melalui rantai makanan di dasar perairan.

“Karena dia mengendap, terus bercampur dengan makanannya, dimakan oleh ikan itu. Makanya dia berakumulasi logam berat dari makanan yang tercemar logam berat di dasar,” ujarnya.

Iwan mengingatkan kondisi tersebut tidak dapat diabaikan karena akumulasi logam berat pada ikan dasar berpotensi berdampak pada keamanan ekosistem maupun rantai makanan. Proses bioakumulasi membuat zat pencemar bertahan dalam tubuh ikan dalam jangka waktu panjang.

Menurutnya, pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi bahan bakso, pakan, maupun produk olahan lain perlu dikaji lebih hati-hati. Pengolahan makanan dinilai tidak menghilangkan kandungan logam berat di dalam tubuh ikan.

Salah satu penanganan paling aman terhadap ikan sapu-sapu ialah pemusnahan melalui penguburan atau pengolahan limbah khusus. Langkah itu dinilai lebih aman dibanding konsumsi langsung oleh masyarakat.

“Saya kira itu bagusnya dibakar. Kalau tidak bisa diolah, ya dikubur,” katanya.

Selain persoalan logam berat, ikan sapu-sapu juga disebut memperburuk keseimbangan ekosistem sungai karena berkembang biak cepat, memakan telur ikan lokal, serta tahan hidup di perairan berkualitas rendah. Iwan mengingatkan masyarakat agar tidak lagi melepas ikan asing ke perairan umum guna mencegah munculnya spesies invasif baru di Kalimantan Timur.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....