Kemuliaan Orang yang Berzikir oleh KH muhammad Bakhiet
- 27 Apr 2026 13:16 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Dari kitab Al-Hikam, yang dikarang oleh Imam Ahmad Ibnu Athaillah As-Sakandari rahimahullah dijelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala memuliakan orang yang berzikir dengan tiga kemuliaan.
Dilansir dari you tobe ngaji pada Senin, 27 April 2026, Guru Bakhiet menjelaskan kemuliaan orang yang berzikir.
Jikalau tidak ada anugerah Allah, tidak akan mampu seseorang untuk berzikir.
Allah juga menjadikan seseorang disebut-sebut oleh-Nya.
"Ketika Allah menyatakan nisbah zikrullah itu kepada kita dan menjadikan kita disebut-sebut di sisi-Nya, maka sempurnalah nikmat Allah atas kita, " kata KH muhammad Bakhiet.
Allah Ta'ala memuliakan orang-orang yang berzikir, baik laki-laki maupun perempuan, dengan tiga kemuliaan.
KH muhammad Bakhiet menjelaskan pengertian zikir bukan hanya "la ilaha illallah", tapi zikir secara umum adalah setiap sesuatu yang diperintahkan Allah lalu kita lakukan dengan niat menjunjung perintah-Nya.
Baik itu ucapan lisan, pandangan mata, pendengaran telinga, atau langkah kaki kita.
Setiap kita melakukan sesuatu yang diperintahkan Allah dengan niat menjunjung perintah-Nya, itulah zikir.
Menuntut ilmu agama dengan tujuan karena Allah adalah zikir.
Misalnya, dari rumah sampai ke majelis ilmu dengan niat menuntut ilmu karena Allah selama perjalanan itu adalah zakirullah,
Orang yang berzikir kepada Allah. Walaupun dalam mobil dia tertidur, meskipun mulutnya tidak berzikir, tetapi seluruh gerak tubuhnya adalah berzikir.
Karena tujuannya menuntut ilmu dan menjunjung perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Itu termasuk zakirullah.
Seorang istri yang melayani suaminya dengan niat menjunjung perintah Allah adalah zakir.
Perempuan yang memasak nasi, menyiapkan pakaian menjunjung perintah suaminya yang disuruh Allah maka selama dia beraktivitas dengan niat tersebut, perempuan itu termasuk berzikir
Karena segala sesuatu tergantung pada niatnya.
Jadi, Allah memberikan kemuliaan kepada orang-orang yang berzikir dengan tiga kemuliaan:
Pertama, Allah menjadikan mereka sebagai tempat untuk zikir.
Tubuh manusia yang berzikir dijadikan Allah sebagai tempat zikir. Allah menguatkan hati mereka untuk berhadap-hadapan dengan Allah.
Kemudian Allah memberikan kepada mereka kenikmatan zikrullah itu.
Alangkah besarnya kemuliaan yang diberikan Allah itu.
Kita berzikir berarti kita mendapatkan hidayah dan taufik.
Makanya kita bisa berzikir. Kalau tidak ada hidayah dan taufik dari Allah, kita tidak bisa berzikir.
Hidayah itu tidak Allah berikan berdasarkan pertemanan, tidak karena hubungan suami istri, tidak berdasarkan keturunan.
Mutlak hidayah itu kehendak Allah, kepada siapa pun Dia hendak memberinya.
Ada anak yang suka menuntut ilmu dan ibadah, anak itu diberi Allah hidayah.
Sebaliknya, dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu wa Ta'ala mencontohkan orang-orang kafir, seperti istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Istri-istri tersebut berada di bawah suami yang saleh dan taat kepada Allah.
Namun mereka mengkhianati suaminya. Suami sedikit pun tidak berdaya. Nabi Nuh telah menasihati istrinya, tetapi ia tetap kafir. Nabi Luth pun demikian.
Jadi, orang yang bisa berzikir adalah orang yang dikasihi dan dicintai oleh Allah.
Andai kata Allah tidak menyayangi orang tersebut, Allah tidak akan memberi hidayah kepadanya agar bisa berzikir kepada-Nya.
Perkara harta dan kedudukan tidaklah sebanding dengan kemuliaan berzikir dan mendapatkan rahmat Allah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....