Manaqib Habib Mundir Kisah Perjuangan Dakwah Penuh Keteladanan
- 27 Apr 2026 08:50 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Jakarta – Pembacaan manaqib Al Habib Mundir bin Fuad Almusawa kembali mengingatkan publik pada sosok ulama yang dikenal dengan keteladanan dan pengorbanannya dalam berdakwah. Manaqib tersebut dibacakan oleh Al Habib Ridho bin Ahmad bin Yahya dalam sebuah majelis yang diawali dengan lantunan selawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam penyampaiannya, Habib Ridho menuturkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan hamba pilihan untuk melanjutkan perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Salah satu sosok tersebut adalah Habib Mundir, yang memiliki garis keturunan tersambung hingga kepada Husein bin Ali, sebagaimana juga banyak dicatat dalam literatur nasab habaib yang dihimpun oleh Rabithah Alawiyah.
Habib Mundir lahir di Cipanas pada tahun 1973 dan tumbuh dalam lingkungan religius. Ayahnya, Habib Fuad Almusawa, diketahui pernah menimba ilmu di Makkah. Sejak muda, ia telah dikenal gemar berzikir dan berselawat, sebagaimana disebutkan dalam berbagai kajian manaqib dan ceramah yang disiarkan melalui kanal Nabawi TV.
Pada masa mudanya, ia menunjukkan kecintaan pada sunnah, termasuk mengenakan jubah yang terinspirasi dari mimpi bertemu Ali bin Abi Thalib. Perjalanan menuntut ilmunya pun dilakukan dari satu majelis ke majelis lain, berguru kepada banyak ulama serta mengambil berkah dari tradisi ziarah ulama.
Perjalanan spiritualnya berlanjut ke Tarim, Hadramaut, saat berguru kepada Habib Umar bin Hafiz. Di sana, ia termasuk santri terpilih yang mendapatkan pendidikan langsung. Sosoknya juga mendapat perhatian dari ulama internasional seperti Habib Ali Aljufri, sebagaimana kerap disebut dalam majelis-majelis ilmu dan riwayat manaqib.
Sepulang ke Indonesia, Habib Mundir mendedikasikan hidupnya untuk berdakwah. Ia dikenal tidak mementingkan diri sendiri, bahkan tetap berdakwah dalam kondisi sakit. Kisah pengorbanannya banyak disampaikan dalam berbagai majelis taklim dan dokumentasi dakwah yang beredar luas di media keislaman.
Hingga akhir hayat, ia disebut menginfakkan harta yang dimiliki untuk kepentingan dakwah. Nilai keteladanan ini menjadi inspirasi bagi banyak kalangan, bahwa perjuangan di jalan Allah tidak hanya melalui lisan, tetapi juga melalui pengorbanan total dalam kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....