Mempertahankan Takwa dan Kesucian Diri untuk Umat Islam

  • 08 Apr 2026 05:02 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Meraih kesucian diri dan predikat takwa setelah bulan Ramadan adalah pencapaian tertinggi bagi seorang Muslim. Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mempertahankan status mulia tersebut di tengah godaan maksiat pasca lebaran. Ustaz Alfiannor memperingatkan agar umat Islam waspada dan tidak mengotori kembali jiwa yang telah bersih.

Dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Samarinda, Sabtu, 28 Maret 2026, ia menjelaskan, orang yang berpuasa dengan landasan iman dan introspeksi diri telah dijanjikan pengampunan dosa oleh Allah Swt, sehingga ia kembali suci ibarat bayi yang baru lahir.

Ustaz Alfiannor mengutip janji Rasulullah saw bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam menjalankan puasa Ramadan.

"Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dilandasi oleh iman dan intropeksi diri, maka dosa yang telah lalu akan diampuni oleh Allah Swt," ujarnya.

Menurutnya, bertakwa adalah derajat paling mulia di sisi Allah Swt, melebihi status sosial atau harta kekayaan. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika predikat tersebut hilang hanya karena seseorang kembali melakukan perbuatan sia-sia atau maksiat setelah bulan Ramadan berakhir.

Ia mengingatkan, menyucikan jiwa adalah jalan keberuntungan, sementara mengotorinya adalah jalan kerugian yang nyata.

"Sesungguhnya beruntung orang-orang yang menyucikan diri dan rugi orang yang mengotorinya. Jangan sampai dikotori kembali oleh perbuatan-perbuatan maksiat,” ucapnya.

Ustaz Alfiannor mendorong umat Islam untuk selalu berusaha menjadi lebih baik dari hari kemarin. Dengan mempertahankan ketakwaan dan kesucian, seorang Muslim akan terhindar dari golongan orang yang merugi atau bahkan celaka karena kualitas imannya yang terus menurun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....