Batasan Cinta Tegas Dukung Pemulihan Klien Rehabilitasi Narkoba

  • 07 Apr 2026 07:36 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Penerapan konsep cinta tegas dalam keluarga memerlukan batasan yang jelas agar tetap menghadirkan kasih sayang tanpa mengabaikan kedisiplinan. Hal ini disampaikan perwakilan Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah (Bareta) Samarinda, dalam program siaran SANKSI (Suara Anti Narkoba, Korupsi dan Judi) Pro 1 RRI Samarinda.

Konselor Adiksi Ahli Pertama Bareta Samarinda, Edy Kurnawan, menjelaskan langkah awal dalam membangun cinta tegas adalah komunikasi yang terbuka antara klien dan keluarga. Melalui komunikasi ini, kedua pihak dapat memahami batasan masing-masing.

“Batasannya dimulai dari komunikasi dulu, mana yang membuat klien nyaman dan mana yang tidak,” ujar Edy, dikutip Selasa 7 April 2026. Ia menekankan keluarga perlu memahami perilaku klien secara menyeluruh, termasuk potensi yang mengarah pada adiksi.

Selain itu, keluarga juga perlu menetapkan aturan yang jelas dalam kehidupan sehari-hari. Aturan tersebut harus disepakati bersama agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari. “Misalnya soal uang, keluarga harus tahu digunakan untuk apa, dan klien juga harus paham manfaatnya,” katanya.

Ia menambahkan, kesepakatan ini menjadi dasar terciptanya hubungan yang sehat dan saling percaya. Menurutnya, setiap tindakan yang dilakukan klien harus memiliki konsekuensi yang jelas. Dengan begitu, klien dapat belajar bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.

Ia menegaskan bahwa konsistensi dalam menerapkan aturan menjadi hal yang sangat penting. “Kalau melakukan ini ada konsekuensinya, kalau melakukan itu juga ada konsekuensinya,” ucap Edi.

Sementara itu, Konselor Bareta lainnya, Endah Meilinda, menyampaikan dukungan keluarga umumnya terlihat sejak awal klien menjalani rehabilitasi. Banyak keluarga yang aktif menanyakan perkembangan serta rutin berkunjung.

Hal ini menjadi indikator bahwa kepedulian keluarga tetap terjaga. “Sebagian besar keluarga mendukung, mereka sering menanyakan perkembangan dan datang berkunjung,” ujar Endah.

Namun demikian, ia juga mengakui masih terdapat sebagian kecil keluarga yang belum kooperatif dalam proses pemulihan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim konselor. Endah menambahkan pendekatan persuasif terus dilakukan agar keluarga dapat memahami pentingnya keterlibatan mereka. “Ada juga keluarga yang menolak dihubungi, tapi tidak banyak,” kata Endah.

Dalam situasi tersebut, konselor berperan aktif menjembatani komunikasi antara klien dan keluarga. Edukasi diberikan agar keluarga memahami bahwa dukungan emosional sangat dibutuhkan klien selama rehabilitasi.

Ia menegaskan kehadiran keluarga menjadi faktor penting dalam meningkatkan semangat pemulihan. “Kita jelaskan bahwa klien hanya ingin menanyakan kabar dan butuh motivasi dari keluarga,” ucap Endah.

Melalui komunikasi yang terbuka, aturan yang konsisten, serta dukungan emosional yang kuat, konsep cinta tegas diharapkan mampu membantu klien menjalani proses rehabilitasi dengan lebih optimal dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....