Menentukan Waktu Panen, Kunci Menjaga Kualitas dan Produktivitas Padi
- 03 Apr 2026 11:05 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Ketepatan waktu panen menjadi salah satu faktor krusial dalam menentukan kualitas dan produktivitas hasil pertanian padi. Kesalahan dalam menentukan waktu panen dapat berakibat fatal, bahkan menghilangkan hasil kerja keras petani selama berbulan-bulan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap tanda-tanda padi siap panen menjadi hal yang sangat penting, khususnya bagi petani yang ingin menghasilkan benih unggul dengan daya tumbuh optimal.
Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) BRMP Kalimantan Timur, Sumarmiyati, menegaskan bahwa waktu panen tidak hanya berdampak pada hasil saat ini, tetapi juga menentukan keberhasilan musim tanam berikutnya. Ia menyebutkan bahwa banyak petani masih mengabaikan indikator teknis di lapangan, sehingga berisiko menurunkan mutu hasil panen.
“Jangan sampai kerja keras berbulan-bulan hilang dalam sekejap hanya karena salah memilih waktu panen,” ujar Sumarmiyati dalam keterangannya, dikutip Jumat 3 April 2026. Ia menambahkan bahwa kunci utama keberhasilan panen terletak pada ketepatan waktu, sehingga daya tumbuh benih tetap tinggi dan produktivitas dapat dimaksimalkan.
Menurutnya, penentuan waktu panen harus disesuaikan dengan umur masing-masing varietas padi. Selain itu, kondisi visual tanaman di lapangan juga menjadi indikator penting yang tidak boleh diabaikan. Kombinasi antara umur tanaman dan kondisi fisik tanaman menjadi dasar dalam memastikan padi siap dipanen.
Sumarmiyati menjelaskan beberapa ciri utama padi yang telah siap panen. Di antaranya adalah bulir padi yang sudah terisi penuh atau bernas, warna gabah yang menguning, serta sebagian daun bagian bawah yang mulai mengering. Kondisi ini menunjukkan bahwa tanaman telah mencapai tingkat kematangan optimal.
Selain itu, sekitar 90 hingga 95 persen bagian tanaman padi umumnya telah berubah warna menjadi kuning secara merata. Ciri lain yang mudah dikenali adalah posisi malai yang sudah merunduk ke bawah, menandakan bulir padi telah terisi penuh dan siap untuk dipanen.
Ia juga mengingatkan bahwa panen yang dilakukan terlalu cepat dapat menyebabkan tingginya kadar air dalam gabah serta meningkatnya jumlah bulir hampa. Hal ini tentu berdampak pada rendahnya kualitas hasil panen serta menurunnya daya tumbuh jika digunakan sebagai benih.
Sebaliknya, keterlambatan panen juga membawa risiko yang tidak kalah besar. “Panen yang terlambat dapat menyebabkan banyak gabah rontok, sehingga terjadi kehilangan hasil yang cukup signifikan,” ucap Sumarmiyati. Kondisi ini sering terjadi di lapangan akibat kurangnya pemantauan terhadap kesiapan tanaman.
Sumarmiyati mengimbau para petani untuk lebih teliti dalam menentukan waktu panen serta rutin mengecek kondisi gabah di lahan masing-masing. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan benih bersertifikat guna menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi pertanian di masa mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....