Strategi Komunitas Pangempang Libatkan Generasi Muda di Pesisir
- 30 Mar 2026 15:22 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Upaya menjaga kelestarian pesisir Pangempang tidak hanya melibatkan komunitas dan masyarakat, tetapi juga generasi muda. Berbagai strategi dilakukan agar anak muda tertarik berpartisipasi dalam kegiatan konservasi dan pengembangan ekowisata.
Sekretaris Pokdarwis Pesona Pangempang, Nurul Fatihah, mengungkapkan bahwa pendekatan yang digunakan adalah menumbuhkan rasa penasaran. “Kami memancing rasa ingin tahu mereka, misalnya dengan menunjukkan aktivitas menarik seperti bertemu wisatawan asing atau kegiatan konservasi,” ujarnya.
Menurutnya, rasa penasaran menjadi pintu masuk keterlibatan generasi muda. “Ketika mereka penasaran, baru kami ajak ikut kegiatan seperti menanam mangrove atau mengenal wisata pesisir,” kata Nurul.
Ia menambahkan, tantangan terbesar adalah pola pikir sebagian anak muda yang cenderung berorientasi pada keuntungan materi. “Kalau langsung berpikir berapa hasilnya, itu sulit. Tapi kalau diawali rasa penasaran dan pengalaman, mereka jadi tertarik,” ucapnya.
Di sisi lain, Pokdarwis juga menghadapi tantangan dalam mengedukasi masyarakat lokal. Nurul mengatakan, tidak semua warga langsung menerima program yang dijalankan. “Masih ada masyarakat yang belum terbuka untuk mengenal potensi daerahnya sendiri,” katanya.
Ia menegaskan, upaya edukasi terus dilakukan agar masyarakat memahami manfaat jangka panjang. “Kami ingin Pangempang bisa berkembang menjadi kampung wisata yang berbasis lingkungan,” ucap Nurul.
Sementara itu, perwakilan Kompak Cakrawala Pesisir, M. Fahrian Akbar, menyoroti tantangan lain dalam menjaga ekosistem, yaitu praktik penangkapan ikan ilegal. “Dulu marak penggunaan alat tangkap seperti pukat harimau yang merusak ekosistem laut,” ujarnya.
Ia bahkan menceritakan pengalaman saat melakukan penindakan terhadap pelaku ilegal fishing. “Kami pernah mendapat ancaman ketika menegur nelayan yang menggunakan alat ilegal. Namun, tetap kami tindaklanjuti bersama aparat,” kata Fahrian.
Menurutnya, praktik tersebut sangat merugikan lingkungan. “Alat tangkap ilegal tidak hanya menangkap ikan besar, tetapi juga bibit ikan dan merusak terumbu karang,” ucapnya.
Sebagai solusi, Kompak mengedukasi masyarakat untuk beralih ke metode yang lebih ramah lingkungan. “Kami mendorong nelayan menggunakan cara yang lebih berkelanjutan, seperti wisata pemancingan yang tidak merusak ekosistem,” ujar Fahrian.
Melalui berbagai tantangan tersebut, kolaborasi antara komunitas, masyarakat, dan generasi muda menjadi kunci dalam menjaga kelestarian pesisir sekaligus mengembangkan potensi wisata berkelanjutan di Pangempang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....