Mempelajari Toleransi dari Perbedaan Ilmu Fikih
- 24 Mar 2026 15:29 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Perbedaan dalam hal keagamaan sering kali menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Namun, perbedaan tersebut justru mengajarkan nilai toleransi yang tinggi dalam Islam.
Dalam program Hikmah Pagi RRI Pro4 Samarinda, pembahasan mengenai perbedaan fikih menjadi salah satu fokus utama. Ustaz Agus Suwarto Edi menjelaskan perbedaan dalam ibadah bukanlah hal baru, bahkan sudah ada sejak zaman Nabi.
Ia mencontohkan peristiwa ketika para sahabat berbeda pendapat dalam melaksanakan salat Asar saat perjalanan ke Bani Quraizhah. Menariknya, Nabi tidak menyalahkan kedua kelompok tersebut.
“Rasulullah tidak menyalahkan. Artinya, perbedaan ijtihad itu bisa terjadi,” ujar Ustaz Agus, dikutip Selasa 24 Maret 2026.
Perbedaan juga terlihat dalam mazhab-mazhab fikih yang berkembang hingga saat ini. Dalam dunia fikih, ada empat mazhab yang paling terkenal yaitu Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hambali. Setiap mazhab memiliki dasar dan metode yang berbeda dalam menetapkan hukum, namun tetap berada dalam ketentuan yang sama.
Ustaz Agus menegaskan sikap para ulama terdahulu patut menjadi teladan. Mereka tetap saling menghormati meskipun berbeda pendapat. “Mengutip dari seorang ulama besar di mazhab Imam Abu Hanifah, beliau berkata ini adalah pendapat kami. Jika ada yang lebih baik, kami akan menerimanya,” katanya.
Sikap terbuka tersebut menunjukkan kebenaran tidak hanya ada di satu kelompok. Justru, dengan adanya perbedaan, umat memiliki pilihan yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Dengan memahami esensi perbedaan dalam fikih, umat Islam diharapkan mampu membangun sikap toleran dan bijak. Sehingga, perbedaan tidak lagi menjadi konflik, melainkan menjadi kekuatan dalam menjaga harmoni kehidupan beragama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....