Tanda Hijrah yang Benar dan Keutamaannya

  • 17 Mar 2026 18:40 WIB
  •  Samarinda
Poin Utama
  • Hijrah

RRI.CO.ID, Samarinda — Pemahaman hijrah di tengah masyarakat terus berkembang, seiring meningkatnya kesadaran beragama. Namun, tidak sedikit yang masih memaknainya sebatas perubahan luar. Muhammad Hafi dari STAI Samarinda menegaskan, hijrah merupakan perjalanan panjang yang menuntut kesungguhan dan konsistensi.

Hijrah dipahami sebagai proses mendekatkan diri kepada Allah dengan niat yang lurus. Perjalanan tersebut tidak dilandasi kepentingan dunia, melainkan dorongan untuk menjalankan ajaran agama secara utuh.

Menurutnya, ada tanda utama hijrah yang benar terlihat dari perubahan perilaku. Seseorang mulai meninggalkan maksiat, mengurangi dosa, serta berusaha menjalankan ibadah secara lebih disiplin. Perubahan tersebut tidak bersifat instan, melainkan melalui proses bertahap yang berlangsung sepanjang hidup.

“Tanda hijrah bukan pada penampilan atau pengakuan sosial. Ukurannya ada pada kesungguhan meninggalkan larangan dan menjalankan perintah,” ujarnya, dikutip Rabu 18 Maret 2026.

Ia menambahkan, orang yang benar-benar berhijrah akan menunjukkan peningkatan kualitas ibadah, seperti lebih menjaga salat, memperbanyak zikir, serta berusaha menjauhi lingkungan yang mendorong pada perbuatan dosa. Selain itu, muncul kesadaran untuk terus memperbaiki diri melalui muhasabah.

Dalam prosesnya, hijrah tidak lepas dari dinamika. Seseorang dapat mengalami penurunan atau kesalahan. Namun, ciri penting lainnya terletak pada kesigapan untuk kembali ke jalan yang benar.

“Ketika tergelincir, ia segera bertobat dan memperbaiki diri. Tidak larut dalam kesalahan,” katanya.

Penjelasan tersebut merujuk pada keteladanan Nabi Muhammad saat berhijrah dari Makkah ke Madinah. Peristiwa itu menggambarkan hijrah sebagai perjuangan besar yang penuh pengorbanan, kesabaran, serta keteguhan dalam mempertahankan iman.

Selain tanda-tanda, Muhammad Hafi juga menguraikan sejumlah keutamaan hijrah. Dalam ajaran Islam, hijrah di jalan Allah membawa dampak positif dalam kehidupan, baik secara spiritual maupun sosial.

Salah satu keutamaan yang dirasakan ialah ketenangan batin. Seseorang yang berhijrah cenderung lebih tenang dalam menghadapi persoalan hidup. Tekanan, masalah, hingga kesulitan ekonomi tidak lagi disikapi dengan kepanikan berlebihan.

“Kehidupan terasa lebih lapang. Ada keyakinan terhadap pertolongan Allah, sehingga tidak mudah gelisah,” ujarnya.

Selain itu, hijrah juga diyakini membuka pintu rezeki. Keluasan yang dimaksud tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga kemudahan dalam menemukan jalan keluar atas berbagai persoalan. Hal ini sejalan dengan janji Allah bagi orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.

Keutamaan lain terlihat pada perubahan pola pikir dan sikap hidup. Individu yang berhijrah akan lebih berhati-hati dalam bertindak, menjaga lisan, serta memperbaiki hubungan dengan sesama. Nilai-nilai tersebut memperkuat kualitas pribadi sekaligus berdampak pada lingkungan sekitar.

Muhammad Hafi turut mengingatkan pentingnya menjaga niat selama proses hijrah. Ia mengutip pandangan ulama Sufyan Ats-Tsauri yang menilai memperbaiki niat sebagai tantangan terbesar dalam beragama. Niat yang tidak terjaga berpotensi menggeser tujuan hijrah menjadi sekadar simbol atau pencitraan.

Perjalanan hijrah disebut tidak pernah berhenti. Setiap individu dituntut terus melakukan evaluasi diri, memperbaiki kesalahan, dan meningkatkan kualitas keimanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....