Pemupukan Bijak Kunci Pertanian Berkelanjutan

  • 26 Feb 2026 12:22 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Penggunaan pupuk organik dan mikroorganisme lokal (MOL) bukan berarti petani harus meninggalkan pupuk kimia sepenuhnya. Dalam dialog interaktif Pro 1 Radio Republik Indonesia Samarinda, penyuluh dan praktisi pertanian Rosdina Napitupulu menegaskan pemupukan harus disesuaikan dengan kondisi tanah dan tanaman.

Rosdina mengatakan kebutuhan pupuk setiap lahan berbeda-beda. “Tanah di satu daerah berbeda dengan daerah lain. Kalau sudah pakai pupuk organik dan mol tapi tanaman masih kurang optimal, berarti masih ada unsur hara yang kurang,” ujarnya kepada RRI, dikutip Kamis, 26 Februari 2026.

Ia menambahkan, pupuk kimia tetap boleh digunakan selama porsinya disesuaikan. “Boleh menambahkan pupuk kimia sesuai kebutuhan, tetapi porsinya lebih sedikit dibanding lahan yang tidak menggunakan pupuk organik dan mol,” kata Rosdina.

Menurutnya, tanah yang sudah sehat akan lebih mampu menyimpan unsur hara dari pupuk kimia. “Ketika pupuk kimia dimasukkan ke tanah yang sehat, pupuk itu akan tersimpan karena tanah sudah punya ‘gudang’ untuk menyimpan air dan nutrisi,” ucapnya.

E-flyer program Suara Nusantara Pro1 Samarinda. (Foto: RRI Samarinda)

Namun, jika kondisi tanah sudah subur dan tanaman tumbuh optimal, tambahan pupuk kimia tidak lagi diperlukan. “Kalau tanaman sudah sehat dan pertumbuhannya baik, berarti sudah cukup. Kita memberi pupuk sesuai indikator yang ditunjukkan tanaman,” ujarnya.

Rosdina berpesan agar petani menjaga keseimbangan ekosistem tanah demi keberlanjutan produksi pangan. “Pertanian adalah penyokong utama kehidupan. Kita harus merawat sumber energi itu, yaitu tanah dan lingkungannya,” katanya.

Ia mengingatkan agar tanah tidak dieksploitasi secara berlebihan tanpa dikembalikan unsur haranya. “Ketika panen jagung atau kedelai, sisa batang dan daun seharusnya dikembalikan ke tanah melalui pengomposan. Itulah bentuk keadilan kita kepada tanah,” ucap Rosdina.

Menurutnya, pemanfaatan pupuk organik dan MOL membantu menjaga siklus alami tersebut. “Alam itu awalnya seimbang. Jangan sampai siklusnya bocor. Energi yang diambil dari tanah harus dikembalikan agar kesuburan tetap berkelanjutan,” ujarnya.

Ia pun mengajak petani dan masyarakat, termasuk ibu rumah tangga yang memiliki tanaman di pekarangan, untuk mulai mandiri pupuk. “Gunakan bahan di sekitar kita, buat mol sendiri, dan kembalikan bahan organik ke tanah. Dengan begitu, tanaman sehat dan tanah tetap subur,” kata Rosdina.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....