Mikroorganisme Lokal Jadi Solusi Organik Suburkan Tanah Petani

  • 26 Feb 2026 12:03 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Selain pupuk organik, pemanfaatan mikroorganisme lokal (MOL) menjadi alternatif yang semakin dikenal petani untuk menjaga kesuburan tanah. Hal itu disampaikan penyuluh dan praktisi pertanian BRMP Kaltim, Rosdina Napitupulu, kepada RRI dalam program Suara Nusantara Pro1 Samarinda.

Rosdinana menjelaskan, MOL merupakan singkatan dari mikroorganisme lokal. “Mol itu mikroorganisme yang didapatkan dari daerah tersebut, lalu kita biakkan melalui proses fermentasi,” ujarnya kepada RRI, dikutip Kamis, 26 Februari 2026.

Ia menegaskan, disebut lokal karena sumber mikroorganismenya berasal dari lingkungan setempat sehingga tidak memerlukan adaptasi ulang. “Kalau mol digunakan di tempat asalnya, dia tidak perlu beradaptasi lagi karena memang berasal dari situ,” kata Rosdina.

Menurutnya, bahan pembuatan MOL sangat mudah ditemukan di sekitar petani. Bahan-bahan tersebut difermentasi dengan tambahan gula merah sebagai sumber energi bagi mikroorganisme. “Sumbernya bisa dari bonggol pisang, nasi sisa, air cucian beras, kulit buah, atau rebung,” ucapnya.

Proses fermentasi inilah yang memperbanyak populasi mikroba sebelum diaplikasikan ke lahan. “Gula merah berfungsi sebagai sumber karbon atau energi karena mikroorganisme itu makhluk hidup yang perlu makan,” ujar Rosdina.

Ia menjelaskan, fungsi utama MOL cukup beragam. Salah satunya sebagai dekomposer atau pengurai bahan organik. “Mol mempercepat penguraian jerami atau kotoran ternak agar bisa dimanfaatkan tanaman,” kata Rosdina.

Selain itu, MOL membantu meningkatkan ketersediaan unsur hara di tanah. “Di Kalimantan Timur unsur hara fosfor sebenarnya ada, tetapi sering terikat karena kondisi tanah yang asam. Mol membantu melepaskan ikatan itu supaya tersedia bagi tanaman,” ujarnya.

Tak hanya menyuburkan tanah, MOL juga merangsang pertumbuhan akar dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit. “Ada mikroba yang menghasilkan enzim untuk merangsang akar dan ada juga yang menjadi musuh jamur patogen penyebab penyakit,” ucapnya.

Rosdina juga menambahkan, saat ini MOL dikategorikan sebagai pupuk hayati. “Dia bukan unsur hara itu sendiri, tetapi membantu ketersediaan unsur hara di dalam tanah,” katanya.

Dengan berbagai fungsi tersebut, pemanfaatan MOL dinilai menjadi langkah organik dan berkelanjutan untuk mendukung produktivitas pertanian tanpa merusak keseimbangan ekosistem tanah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....