Menembus Batas Akses Logistik Huntara Ramadan Aceh
- 23 Feb 2026 11:58 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Proses pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi korban banjir di Aceh terus dikejar meski menghadapi kendala geografis yang ekstrem. Saat ini, progres pembangunan di wilayah Aceh Utara telah mencapai 80 persen, sementara di wilayah lain seperti Aceh Tamiang dan Aceh Timur terus dipacu demi memberikan tempat bernaung yang layak bagi warga di tengah bulan suci Ramadan.
Fadhil, seorang relawan yang terjun langsung ke lokasi, menjelaskan bahwa akses logistik menjadi tantangan terbesar dalam pembangunan Huntara. "Untuk mencapai lokasi seperti di daerah Betong, kami butuh waktu 3 hingga 4 jam perjalanan normal. Kondisi jalan sangat ekstrem, bahkan terkadang mobil pengangkut bahan bangunan harus dibantu dorong," ujar Fadhil dikutip dalam dialog Pantas Aceh Pro 4 RRI Samarinda, Sabtu, 21 Februari 2026.
Meskipun progres pembangunan Huntara secara umum baru menyentuh angka 70 persen, pemerintah provinsi Aceh dan TNI terus berkolaborasi melakukan percepatan. Regulasi pemindahan warga dari tenda darurat ke Huntara, dan nantinya ke Hunian Tetap (Huntap), saat ini sedang dalam tahap koordinasi intensif. Fokus utama saat ini adalah memastikan warga tidak lagi tinggal di bawah tenda plastik yang panas.
Infrastruktur pendukung seperti aliran listrik dan sinyal komunikasi kini mulai berangsur normal di beberapa titik bencana. Sebelumnya, warga sempat mengalami masa-masa sulit di mana listrik hanya menyala dalam durasi terbatas. Pemulihan infrastruktur dasar ini sangat vital untuk menunjang aktivitas warga selama bulan puasa, terutama saat waktu sahur dan malam hari.
"Listrik sudah normal kembali, fasilitas air bersih juga diupayakan tersedia di tiap blok hunian agar warga bisa berwudhu dan memasak dengan mudah," kata Fadhil menambahkan. Ketersediaan fasilitas dasar ini menjadi prioritas agar beban psikologis warga terdampak tidak semakin berat selama menjalankan kewajiban ibadah puasa satu bulan penuh.
Selain bangunan hunian, rehabilitasi fasilitas pendidikan juga menjadi sorotan. Banyak sekolah dan pondok pesantren yang sempat terseret arus banjir kini mulai diperbaiki. Hal ini dilakukan agar anak-anak di pengungsian tetap bisa mengenyam pendidikan dan mengikuti kegiatan pesantren kilat yang menjadi tradisi rutin saat bulan Ramadan tiba.
Meskipun pembangunan fisik terus berjalan, tantangan lingkungan seperti penggundulan hutan di hulu sungai disinyalir menjadi penyebab utama banjir yang berulang. Ke depan, penanganan bencana di Aceh tidak hanya fokus pada pembangunan Huntara, tetapi juga pada mitigasi bencana jangka panjang dan pemulihan ekosistem hutan untuk mencegah bencana serupa kembali terjadi di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....