Ancaman Mikroplastik Bagi Kesehatan dan Ekosistem Kaltim

  • 18 Feb 2026 08:59 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Di balik kemudahan penggunaan plastik sekali pakai, terdapat ancaman jangka panjang bagi kesehatan manusia dan kelestarian ekosistem, yakni mikroplastik. Hal itu disampaikan para pegiat lingkungan dari Bank Sampah Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Mulawarman (Unmul), dalam program Green Radio Pro1 RRI Samarinda, dikutip Rabu 18 Februari 2026.

Dalam dialog tersebut dijelaskan, polusi plastik bukan sekadar persoalan estetika kota, melainkan ancaman biologis yang nyata. Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil yang berasal dari degradasi sampah plastik. Karena berukuran mikroskopis, partikel ini kerap tidak disadari telah mencemari sumber air dan masuk ke dalam rantai makanan masyarakat, termasuk di Kalimantan Timur.

Ketua HPSN 2026 Bank Sampah Faperta Unmul, Ahmadika Widi Kusuma, menegaskan bahaya mikroplastik yang dapat terakumulasi dalam tubuh manusia secara perlahan.

“Bahaya mikroplastik dalam jangka panjang bisa kita rasakan pada tubuh sendiri. Mikroplastik itu tidak terlihat oleh kasatmata, tetapi bisa saja masuk ke dalam tubuh kita,” ujarnya.

Selain berdampak pada kesehatan manusia, penumpukan sampah plastik di perairan juga memicu terbentuknya fenomena “pulau sampah” yang merusak habitat akuatik. Ekosistem Sungai Mahakam sebagai urat nadi Kalimantan Timur pun tak luput dari ancaman degradasi akibat partikel plastik yang sulit terurai secara alami.

Kebiasaan masyarakat dalam menangani sampah turut menjadi sorotan. Praktik membakar sampah plastik yang kerap dianggap sebagai solusi cepat justru menimbulkan polusi ganda. “Asap pembakaran mengandung zat kimia berbahaya yang mencemari udara, sementara residunya tetap menyisakan pencemaran tanah dan partikel berbahaya,” ucap Ahmadika.

Ahmadika mengimbau masyarakat, terutama generasi muda, untuk beralih dari penggunaan plastik sekali pakai ke produk yang dapat digunakan berulang kali. “Penggunaan tumbler dan sedotan aluminium adalah langkah sederhana, namun berdampak signifikan dalam menekan laju polusi plastik di lingkungan sekitar,” katanya.

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 diharapkan menjadi momentum refleksi bersama. Tanpa perubahan perilaku yang signifikan dalam pengelolaan sampah plastik, generasi mendatang di Kalimantan Timur berisiko mewarisi kerusakan ekosistem dan ancaman krisis kesehatan akibat akumulasi zat berbahaya dalam tubuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....