Metode Belajar Bahasa Isyarat Inklusif ala Ambara Cita
- 16 Feb 2026 14:52 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Belajar bahasa isyarat bukanlah perkara mudah. Tantangan terasa bahkan bagi mereka yang tidak memiliki hambatan penglihatan maupun pendengaran. Sensitivitas gerakan, pemahaman makna, hingga konsistensi latihan menjadi kunci keberhasilan. Hal inilah yang juga dirasakan dalam proses pembelajaran literasi inklusi bersama komunitas Ambara Cita di Samarinda.
Relawan Komunitas Ambara Cita, Lismia Nabilla, mengakui mempelajari huruf Braille maupun bahasa isyarat memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Menurutnya, Braille tidak hanya terdiri atas alfabet, tetapi juga memiliki sistem singkatan dan penulisan khusus yang membutuhkan ketelitian tinggi. “Sensitivitas perabaan itu berbeda sekali. Bahkan saya sendiri sampai sekarang masih terus belajar,” kata Mia, dikutip Senin, 16 Februari 2026.
Namun, dalam praktiknya, Ambara Cita lebih menekankan pembelajaran bahasa isyarat sebagai pintu masuk literasi inklusi. Dijelaskannya, metode yang diterapkan tidak serta-merta diajarkan oleh relawan nondisabilitas. “Kami berkomitmen tidak langsung mengajarkan, walaupun kami tahu praktiknya. Yang mengajarkan tetap teman-teman tuli sendiri,” ujarnya.
Pendekatan ini dilakukan melalui kolaborasi dengan Ikatan Kebersamaan Anak Tuli (IKAT). Prinsip yang dipegang adalah “dari mereka untuk mereka”. Artinya, penyandang disabilitas pendengaran menjadi subjek sekaligus pengajar dalam proses belajar-mengajar. Metode ini dinilai lebih autentik dan menghormati identitas budaya tuli.
Ia mengaku, bahasa isyarat masih sering dianggap tabu atau aneh oleh sebagian masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang menguatkan komitmennya dalam gerakan literasi inklusi.
“Sebelum saya belajar, saya juga sempat berpikir seperti itu. Tapi ketika masuk hari pertama pelatihan, saya hampir menangis karena setiap gerakan ternyata memiliki makna yang luar biasa,” katanya.
Dalam kelas-kelas yang dijalankan, metode pembelajaran dilakukan secara bertahap dan interaktif. Peserta diajak memahami dasar-dasar alfabet isyarat, ekspresi wajah, hingga praktik percakapan sederhana. Anak-anak menjadi sasaran utama karena dinilai lebih mudah menyerap bahasa melalui gerakan visual pada usia emas perkembangan.
Melalui pendekatan kolaboratif ini, Ambara Cita ingin menegaskan bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan kesetaraan. Literasi inklusi tidak hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga tentang membuka ruang dialog yang menghargai perbedaan. Dengan metode yang partisipatif dan humanis, pembelajaran bahasa isyarat diharapkan semakin diterima luas oleh masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....