Antisipasi Kekeringan, BRMP Kaltim Tinjau Sumber Air untuk Irigasi Pertanian
- 14 Sep 2026 14:26 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Timur bersama penyuluh pertanian, kelompok tani, DPTPH Provinsi Kalimantan Timur, dan Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) meninjau sejumlah sumber air potensial di Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda, untuk mendukung percepatan penyediaan sarana irigasi bagi lahan pertanian yang terdampak kekeringan.
Peninjauan dilakukan di tiga wilayah, yakni Kelurahan Handil Kopi, Pulau Atas, dan Makroman. Kegiatan tersebut bertujuan mengidentifikasi kondisi sumber air di lapangan sekaligus menyelaraskan kebutuhan petani dengan dukungan sarana irigasi yang diperlukan selama periode kekeringan.
Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Kalimantan Timur, Ahmad Subhan mengatakan peninjauan lapangan menjadi bagian penting untuk memperoleh gambaran mengenai potensi sumber air yang dapat dimanfaatkan dalam mendukung kegiatan pertanian.
“Peninjauan ini menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung kondisi sumber air dan kebutuhan irigasi di lapangan. Dari hasil tersebut, nantinya dapat menjadi bahan koordinasi dan tindak lanjut sesuai kondisi serta kebutuhan masing-masing wilayah,” kata Ahmad Subhan.
Di Kelurahan Handil Kopi, tim meninjau sumber air berupa kolam bekas tambang dengan luas sekitar 9,38 hektare dan kedalaman berkisar 30 hingga 50 meter. Kondisi kolam dan lingkungan sekitarnya menjadi bagian dari identifikasi awal untuk melihat potensi pemanfaatannya bagi kebutuhan air pertanian.
Dalam rangkaian peninjauan tersebut, Ahmad Subhan juga bertemu dengan Ketua TWAP, Syaparudin. Pertemuan membahas dukungan terhadap percepatan penyelesaian kegiatan irigasi yang sebelumnya telah diusulkan. TWAP menyatakan dukungan terhadap upaya percepatan tersebut agar proses yang diperlukan dapat segera ditindaklanjuti sesuai ketentuan.
Peninjauan kemudian berlanjut ke Kelurahan Pulau Atas. Di wilayah tersebut telah diusulkan pembangunan irigasi perpompaan (Irpom) dengan memanfaatkan sumber air dari Sungai Mahakam. Tim bersama penyuluh, lurah, dan petani melihat langsung kondisi sumber air serta lokasi yang direncanakan untuk mendukung penyediaan air ke lahan pertanian.
Selanjutnya, tim mengamati sumber air di Kelurahan Makroman berupa kolam bekas tambang yang dikenal masyarakat sebagai Danau Tawes. Sumber air tersebut memiliki luas sekitar 13 hektare dengan kedalaman mencapai sekitar 80 meter. Kondisi sumber air dan lingkungan sekitar menjadi informasi penting dalam menentukan potensi pemanfaatannya untuk kebutuhan pertanian.
Ahmad Subhan menekankan bahwa pemanfaatan sumber air, khususnya yang berasal dari kolam bekas tambang, tetap membutuhkan kajian teknis dan pemeriksaan kesesuaian kualitas air sebelum digunakan untuk kegiatan budidaya. Hal tersebut diperlukan agar sumber air yang dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan pertanian dan kondisi di lapangan.
“Yang paling penting adalah bagaimana sumber air yang ada dapat dimanfaatkan secara tepat dan sesuai kebutuhan. Untuk sumber air dari kolam bekas tambang, tentu harus mempertimbangkan aspek teknis dan kualitas air sebelum digunakan untuk pertanian,” ujarnya.
Keberadaan irigasi perpompaan (Irpom) dan irigasi perpipaan (Irpip) dinilai semakin penting untuk membantu petani menghadapi penurunan ketersediaan air pada periode kering. Sarana tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pemanfaatan sumber air sekaligus menjaga keberlangsungan kegiatan budidaya.
Pengembangan Irpom dan Irpip juga diarahkan untuk mendukung penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kecamatan Sambutan. Melalui pengelolaan air yang lebih efektif, mekanisasi, intensifikasi produksi, serta pemanfaatan teknologi adaptif, penguatan sarana irigasi diharapkan dapat membantu menciptakan sistem pertanian yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....