Perbenihan Jagung Diperkuat untuk Dukung Ketersediaan Benih di Kaltim
- 01 Sep 2026 14:10 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Ketersediaan benih jagung yang cukup dan bermutu menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung peningkatan produksi jagung di Kalimantan Timur. Benih tidak hanya menjadi awal dari proses budidaya, tetapi juga menentukan pertumbuhan tanaman, keseragaman pertanaman hingga potensi hasil yang dapat diperoleh petani.
Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) BRMP Kalimantan Timur, Sumarmiyati, mengatakan benih merupakan salah satu faktor utama keberhasilan budidaya jagung. Benih yang sehat, memiliki daya tumbuh baik dan sesuai dengan kondisi agroekosistem akan sangat menentukan pertumbuhan serta produktivitas tanaman.
“Benih yang bermutu, sehat, memiliki daya tumbuh yang baik dan sesuai dengan kondisi agroekosistem akan sangat menentukan pertumbuhan serta produktivitas tanaman. Karena itu, ketersediaan benih jagung yang cukup dan bermutu menjadi bagian penting untuk mendukung peningkatan produksi jagung di Kalimantan Timur,” ujar Sumarmiyati.
Menurutnya, mutu benih tidak hanya dilihat dari jumlah atau ketersediaannya, tetapi juga harus memenuhi sejumlah persyaratan, mulai dari mutu fisiologis, genetis hingga fisik. Penggunaan varietas yang unggul dan sesuai dengan kondisi wilayah juga menjadi pertimbangan penting agar tanaman dapat tumbuh seragam dan mencapai produktivitas optimal.
Sumarmiyati menjelaskan, penggunaan benih dengan mutu rendah dapat memberikan dampak sejak fase awal pertumbuhan. Daya tumbuh yang rendah dan pertumbuhan yang tidak seragam dapat menyebabkan berkurangnya populasi tanaman sehingga berpotensi menurunkan hasil panen. Karena itu, petani dianjurkan menggunakan benih dari sumber yang jelas dan, terutama, benih yang telah bersertifikat.
Untuk mendukung ketersediaan benih lokal, BRMP Kalimantan Timur pada 2026 melaksanakan kegiatan produksi benih jagung di tiga lokasi, yakni dua lokasi di Samarinda dan satu lokasi di Kabupaten Kutai Kartanegara, tepatnya di Kecamatan Tenggarong Seberang. Kegiatan tersebut mencakup seluruh rangkaian produksi benih, mulai dari pemeliharaan tanaman, panen, pengolahan, pengeringan, pengujian mutu hingga proses sertifikasi.
Salah satu varietas yang dikembangkan dalam kegiatan tersebut adalah jagung komposit Jakarin 1. Varietas ini dipilih karena dinilai cukup adaptif terhadap kondisi agroekosistem Kalimantan Timur dan memiliki karakter tahan terhadap kekeringan, sehingga berpotensi dikembangkan pada lahan kering yang cukup banyak ditemukan di wilayah tersebut.
Produksi benih jagung memiliki proses yang lebih ketat dibandingkan produksi jagung untuk konsumsi. Pemilihan lokasi, persiapan lahan, penggunaan sumber benih, penanaman sesuai petunjuk teknis, pengawasan pertanaman, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), hingga waktu panen harus dilakukan secara cermat untuk menjaga kemurnian dan kesehatan benih.
Pengawasan pertanaman menjadi salah satu tahapan penting. Tanaman yang menyimpang dari karakter varietas maupun tanaman yang terserang penyakit harus disingkirkan agar tidak tercampur dengan tanaman lain. Pengendalian OPT juga dilakukan secara tepat sejak fase vegetatif hingga generatif untuk memastikan tanaman yang akan menghasilkan benih tetap sehat.
Tahapan pascapanen juga sangat menentukan kualitas benih. Tongkol yang telah dipanen harus ditangani dan dikeringkan dengan tepat agar mencapai kondisi yang sesuai untuk penyimpanan dan pengujian. Kadar air yang terlalu tinggi serta penyimpanan yang tidak tepat dapat mempercepat kerusakan dan menurunkan mutu benih.
Selain memenuhi kebutuhan benih petani, pengembangan perbenihan jagung lokal dinilai membuka peluang ekonomi baru melalui tumbuhnya petani penangkar. Petani atau kelompok tani dapat menjadi bagian dari sistem perbenihan setelah memenuhi persyaratan dan memperoleh pendampingan yang sesuai, termasuk dalam penerapan teknologi budidaya, pemupukan, pengendalian OPT hingga penanganan pascapanen.
Penguatan perbenihan lokal juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan benih dari luar daerah sekaligus membangun sistem perbenihan yang lebih mandiri dan berkelanjutan di Kalimantan Timur. Sumarmiyati menegaskan bahwa keberhasilan upaya tersebut membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, BRMP, penyuluh, penangkar, kelompok tani dan pelaku usaha.
“Kami berharap produksi dan penggunaan benih jagung yang bermutu terus meningkat, penangkar lokal semakin berkembang dan mampu menyediakan benih secara berkelanjutan. Untuk mewujudkannya, diperlukan sinergi dan kolaborasi semua pihak, karena perbenihan jagung tidak bisa dilakukan sendiri,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....