Panen Perdana PM-AAS Dorong Produktivitas Padi dan Kemandirian Pangan Kaltim
- 20 Agt 2026 11:54 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Semangat memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia diwujudkan melalui upaya memperkuat kedaulatan dan kemandirian pangan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendorong penerapan teknologi pertanian modern guna meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung percepatan swasembada pangan yang berkelanjutan.
Upaya tersebut ditandai dengan panen perdana padi Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di lahan Kelompok Tani Harapan Baru, Desa Makroman, Kecamatan Sambutan, Samarinda, Selasa, 18 Agustus 2026. Kegiatan ini dihadiri Dinas PTPH Provinsi Kalimantan Timur, UPTD BPSB dan BPTPH Kaltim, penyuluh, kelompok tani, BPS Provinsi Kaltim dan BPS Kota Samarinda, Tim BRMP Kaltim, Kepala BRMP Kaltim, Brigade Pangan serta Kelompok Tani Harapan Baru.
PM-AAS merupakan sistem budidaya padi intensif berbasis teknologi yang dikembangkan Kementerian Pertanian. Sistem tersebut mengintegrasikan mekanisasi modern, seperti penggunaan drone dan combine harvester, teknologi digital, serta konsep pertanian presisi untuk mendorong produktivitas padi mendekati potensi optimal varietas yang digunakan.
Pada demplot di Kecamatan Sambutan, model PM-AAS diterapkan menggunakan varietas IR-32. Varietas tersebut dinilai memiliki ketahanan terhadap hama, adaptif terhadap perubahan iklim, serta sesuai untuk sistem tanam rapat maupun Tanam Benih Langsung (Tabela). Penerapan teknologi dilakukan di tengah kondisi serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang cukup masif di kawasan demplot.
Hasil ubinan yang dilakukan bersama BPS Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan produktivitas mencapai 7,3 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Angka tersebut meningkat dibandingkan produktivitas eksisting yang berada di kisaran 4 ton per hektare. Produksi tertinggi tercatat pada penerapan PM-AAS dengan pola tanam 4:1.
Kepala BRMP Kalimantan Timur mengatakan hasil tersebut menjadi indikator positif bagi pengembangan pertanian modern di daerah. “Dari hasil ubinan yang dilaksanakan bersama BPS Provinsi Kaltim, produktivitas yang diperoleh cukup menggembirakan yaitu 7,3 t/ha GKP jika dibandingkan dengan produktivitas eksisting 4 ton/ha,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, penerapan PM-AAS juga berpotensi menekan kebutuhan biaya tenaga kerja. Biaya tenaga kerja disebut turun dari sekitar Rp3 juta menjadi Rp300 ribu per hektare. Namun, penerapan teknologi ini membutuhkan tambahan biaya untuk pupuk organik, kapur, NPK, silika dan pestisida yang diperkirakan mencapai sekitar Rp14 juta.
Dengan asumsi harga gabah Rp6.500 per kilogram, produksi tersebut dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp32 juta per musim tanam atau sekitar empat bulan. “Kami mengharapkan model PM-AAS dapat dikembangkan dan diadopsi oleh petani lain sehingga target swasembada dapat dicapai dan berkelanjutan,” kata Kepala BRMP Kaltim.
Pengembangan PM-AAS masih menghadapi sejumlah kebutuhan di tingkat petani. Dalam diskusi, petani mengusulkan bantuan pompa untuk mengairi persawahan dengan memanfaatkan sumber air dari danau bekas tambang di kawasan tersebut. Petani juga berharap seluruh produksi gabah dapat diserap Bulog sebagai jaminan pemasaran. Sementara itu, dukungan benih diberikan sesuai kebutuhan dan pupuk memperoleh subsidi. Dengan penerapan teknologi dan dukungan sarana yang tepat, PM-AAS diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sesuai potensi varietas yang direkomendasikan sekaligus memperkuat fondasi swasembada pangan di Kalimantan Timur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....