Laut Makin Hangat, Perubahan Iklim Ancam Terumbu Karang

  • 10 Agt 2026 08:58 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kondisi laut saat ini menghadapi tekanan yang semakin besar akibat perubahan iklim dan berbagai aktivitas manusia. Peningkatan suhu air laut menjadi salah satu dampak yang dapat dirasakan langsung, termasuk oleh masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir.

Manager Program Kelautan Kalimantan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Basir, menjelaskan perubahan suhu laut merupakan bagian dari tekanan global yang sedang dihadapi ekosistem laut. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada suhu air, tetapi juga dapat mengancam keberlangsungan terumbu karang.

"Buat yang suka berenang mungkin merasa air laut sekarang makin hangat. Itu bukan karena banyak teman di sekitar jadi hangat, tetapi memang ada perubahan iklim," ujar Basir.

Menurut Basir, peningkatan suhu laut dapat memicu pemutihan terumbu karang atau coral bleaching. Kondisi tersebut bukan sekadar membuat warna karang menjadi putih, melainkan menjadi tanda bahwa karang sedang mengalami tekanan dan berpotensi mengalami kematian apabila kondisi lingkungan tidak segera membaik.

Selain perubahan iklim, pencemaran juga menjadi persoalan serius bagi ekosistem laut. Aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan serta pembangunan yang tidak terkendali di kawasan laut dan pesisir turut meningkatkan kerentanan ekosistem.

Basir mengungkapkan, sebagian besar pencemaran laut justru berasal dari aktivitas di daratan. Diperkirakan sekitar 70 persen pencemaran laut bersumber dari darat, sementara pencemaran dari wilayah laut antara lain berasal dari aktivitas pelayaran serta kegiatan bongkar muat kapal di kawasan dermaga.

"Sebagian besar pencemaran laut itu berasal dari darat, sekitar 70 persen. Sumbernya bisa dari aktivitas rumah tangga, pertanian, dan berbagai kegiatan lainnya yang akhirnya bermuara ke laut," kata Basir.

Permasalahan sampah plastik juga menunjukkan bahwa persoalan laut tidak mengenal batas wilayah. Basir mencontohkan kondisi di kawasan Maratua, Kalimantan Timur, yang pada musim tertentu dapat menerima sampah plastik yang terbawa arus laut dari arah Filipina.

"Di Maratua, pada musim tertentu sampah plastik bisa terbawa arus dari Filipina ke Maratua, begitu juga sebaliknya. Jadi sampah yang ada di laut itu bisa berpindah mengikuti arus," ucapnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjaga laut membutuhkan kesadaran dan kerja sama lintas wilayah. Sampah yang dibuang di satu tempat dapat terbawa arus dan akhirnya mencemari kawasan lain yang jaraknya jauh dari sumber sampah.

Menurut Basir, tekanan terhadap laut tidak hanya menjadi persoalan pemerintah atau kelompok pemerhati lingkungan. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan mengurangi pencemaran dari sumbernya, terutama melalui kebiasaan mengelola sampah dan menjaga aktivitas di kawasan pesisir.

Dengan berbagai tekanan yang terus meningkat, menjaga kesehatan laut menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Laut yang sehat tidak hanya berperan bagi keberlangsungan ekosistem, tetapi juga menopang kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir dan laut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....