Pertanian Kalimantan Timur Tinggalkan Cara Lama, Teknologi Jadi Penentu Produksi
- 03 Jul 2026 13:09 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Upaya memperkuat swasembada pangan nasional tidak lagi hanya mengandalkan perluasan lahan pertanian. Pemerintah kini mendorong transformasi pola bertani melalui pemanfaatan teknologi, mekanisasi, dan pendampingan penyuluh agar produktivitas lahan yang ada terus meningkat.
Transformasi tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Gerakan Tanam Serentak 50.000 hektare yang dilaksanakan serentak di 25 provinsi, termasuk di Kelurahan Sambutan, Kota Samarinda, 3 Juli 2026. Selain mempercepat masa tanam, pemerintah ingin membangun sistem pertanian yang lebih efisien dan mampu menjawab tantangan perubahan iklim maupun meningkatnya kebutuhan pangan.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Kementerian Pertanian, Muhammad Amin, mengatakan sektor pertanian kini memasuki era baru yang menuntut petani memanfaatkan inovasi teknologi dalam setiap proses budidaya.
"Pertanian sekarang tidak lagi dilakukan seperti dulu. Sudah berbasis inovasi teknologi dan mekanisasi. Modal yang diberikan pemerintah berupa mesin, pompa dan berbagai sarana produksi harus benar-benar dioptimalkan," katanya.
Menurutnya, pemerintah juga memperkuat peran Brigade Pangan, balai pendamping, serta penyuluh pertanian untuk memastikan teknologi yang disalurkan benar-benar dimanfaatkan di lapangan. Pendampingan menjadi penting agar bantuan alat dan mesin pertanian tidak berhenti sebagai program, tetapi mampu meningkatkan hasil panen petani.
Selain modernisasi alat, Kementerian Pertanian juga memperkenalkan pola budidaya baru melalui Program PMAS yang dikembangkan dari sistem tanam jajar legowo. Program tersebut ditargetkan diterapkan secara bertahap di berbagai daerah sebagai bagian dari strategi meningkatkan produktivitas sawah nasional.
Muhammad Amin menegaskan keberhasilan program pertanian tidak cukup diukur dari jumlah bantuan yang disalurkan. Yang lebih penting adalah sejauh mana lahan mampu menghasilkan panen lebih banyak melalui peningkatan indeks pertanaman dan penerapan teknologi.
"Penyuluh adalah garda depan pendampingan petani. Keberhasilan program ini akan terus dievaluasi agar benar-benar memberikan hasil bagi peningkatan produksi pangan," ujarnya.
Bagi Kalimantan Timur, perubahan pola bertani menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), kebutuhan pangan diperkirakan terus meningkat, sementara luas lahan pertanian produktif memiliki keterbatasan. Kondisi tersebut membuat peningkatan produktivitas menjadi pilihan yang lebih realistis dibanding hanya mengandalkan pembukaan lahan baru.
Karena itu, transformasi menuju pertanian modern menjadi investasi jangka panjang bagi daerah. Ketika petani mampu memanfaatkan teknologi, didukung pendampingan penyuluh serta mekanisasi yang memadai, produktivitas lahan dapat meningkat tanpa harus terus memperluas kawasan pertanian. Langkah inilah yang diharapkan menjadi fondasi menuju swasembada pangan yang berkelanjutan di Kalimantan Timur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....