Kisah Inspiratif Roshi Wanti, Menjahit Harapan Ditengah Keterbatasan
- 18 Mei 2026 11:40 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Tidak pernah terbayang sebelumnya oleh Roshi Wanti bahwa dirinya mampu mengoperasikan mesin jahit dan menghasilkan karya sendiri. Sebagai seorang penyandang disabilitas daksa yang hanya mengandalkan satu tangan, Roshi sempat merasa dunia keterampilan, khususnya menjahit, bukanlah ruang yang bisa ia masuki. Rasa minder dan takut gagal membuatnya selama ini memilih untuk diam dan tidak mencoba.
Namun keraguan itu perlahan berubah ketika ia mengikuti pelatihan keterampilan yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau DP3A Provinsi Kalimantan Timur bersama DP3A Kota Samarinda. Hal ini diungkapkan Roshi kepada RRI Samarinda dalam program “Ruang Disabilitas dan Inklusi” yang mengangkat tema “Merangkai Karya, Membuka Peluang”. Kegiatan pelatihan tersebut menurut Roshi menjadi titik awal untuk membuktikan, keterbatasan fisik bukan penghalang untuk belajar dan berkarya.
Awalnya, Roshi bahkan sempat menolak ketika diajak mengikuti pelatihan menjahit oleh Ketua PPDI Kota Samarinda, Rica Rahim. Ia merasa tidak mungkin mampu mengoperasikan mesin jahit dengan kondisi fisiknya. Bayangan tentang sulitnya memasukkan benang, mengendalikan mesin, hingga menjahit kain membuatnya pesimis sebelum mencoba.
“Aduh gimana ya, saya kan tangannya satu saja,” ucap Roshi ketika ditawari mengikuti pelatihan tersebut.
Namun dorongan dan motivasi dari Rica Rahim membuat Roshi memberanikan diri untuk mencoba. Ia diyakinkan bahwa tidak ada yang mustahil selama mau belajar. Kalimat sederhana itu ternyata menjadi penyemangat besar yang mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri.
Dalam pelatihan yang berlangsung selama empat hari itu, Roshi mendapatkan pendampingan langsung dari Emelda Andayani selaku mentor dan owner Roda Seni Antaqa. Dengan sabar, Emelda mengajarkan cara menggunakan mesin jahit portable yang lebih mudah dioperasikan, termasuk teknik membuat tote bag, sulam sederhana, hingga memanfaatkan kain perca menjadi produk bernilai.
Roshi mengaku awalnya masih dipenuhi rasa takut. Bahkan saat pertama kali memegang mesin jahit, ia merasa dirinya tidak akan mampu mengikuti pelatihan sampai selesai. Namun perlahan, suasana pelatihan yang hangat dan inklusif membuatnya mulai nyaman. Tidak ada perbedaan perlakuan antara peserta disabilitas maupun non-disabilitas.
“Saya kira tidak mampu karena hanya menggunakan satu tangan. Tapi ternyata bisa. Dengan belajar dan dibimbing mentor yang sabar, saya akhirnya dapat menghasilkan karya,” ujar Roshi.
Keberhasilan membuat tote bag pertamanya menjadi momen yang tidak pernah ia lupakan. Dari yang awalnya hanya datang dengan rasa minder, Roshi pulang membawa karya buatannya sendiri. Bahkan ia mulai berpikir bahwa keterampilan tersebut bisa menjadi peluang usaha di masa depan.
Bagi Roshi, pelatihan ini bukan sekadar belajar menjahit. Lebih dari itu, ia menemukan kembali rasa percaya diri yang selama ini hilang karena stigma dan keterbatasan yang melekat pada dirinya. Ia mulai percaya bahwa penyandang disabilitas juga memiliki kemampuan yang sama untuk berkembang jika diberikan kesempatan dan ruang yang tepat.
Kisah Roshi menjadi gambaran, penyandang disabilitas sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi masih terhambat oleh rasa malu, minder, dan takut tidak diterima di lingkungan sosial. Padahal, ketika ruang inklusif dibuka dan dukungan diberikan, mereka mampu menunjukkan kemampuan yang bahkan tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Melalui pengalaman ini, Roshi berharap semakin banyak penyandang disabilitas berani keluar dari rasa takut dan mulai mencoba hal-hal baru. Menurutnya, kegagalan bukanlah hal yang perlu ditakuti, karena keberanian untuk mencoba adalah langkah pertama menuju perubahan.
“Kalau tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu ternyata kita bisa,” kata Roshi penuh semangat.
Program pelatihan seperti yang dilakukan Roda Seni Antaqa bersama organisasi disabilitas dan pemerintah daerah pun diharapkan terus berlanjut. Sebab dari ruang kecil seperti pelatihan menjahit inilah lahir harapan baru, kepercayaan diri, dan bukti nyata bahwa penyandang disabilitas juga mampu berkarya tanpa batas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....