Krisis Air Bersih Picu 80 Persen Penyakit Pascabencana

  • 07 Agt 2026 10:27 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Krisis air bersih menjadi ancaman serius pada masa tanggap darurat bencana. Keterbatasan akses terhadap air bersih dan buruknya sanitasi di lokasi pengungsian berpotensi memicu berbagai penyakit menular yang dapat memperburuk kondisi para penyintas.

Ketua Lembaga Resiliensi Bencana–Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur, Ns. Maridi M. Dirdjo, dalam obrolan SPADA Pro 2 RRI Samarinda mengatakan sekitar 80 persen penyakit yang muncul setelah bencana disebabkan oleh krisis air bersih dan sanitasi yang tidak memadai.

"Jadi, setelah bencana, 80 persen penyakit itu berasal dari krisis air bersih atau sanitasi yang buruk. Pertama, air yang bersih itu sebenarnya mencegah kematian langsung, yaitu dari kekurangan cairan atau dehidrasi," ujarnya, dikutip Jumat, 7 Agustus 2026.

Maridi menjelaskan, ketersediaan air bersih tidak hanya mencegah dehidrasi, tetapi juga berperan penting dalam mencegah terjadinya wabah penyakit di lokasi pengungsian. Menurutnya, kondisi sanitasi yang buruk dapat mempercepat penyebaran penyakit dari satu penyintas ke penyintas lainnya.

"Nah, yang kedua adalah mencegah wabah penyakit. Dengan air yang cukup maka akan terhindari atau tercegahnya penyakit. Karena bagaimanapun, menurut bukti-bukti ilmiah, satu orang yang diare itu bisa menularkan orang satu kampung jadi diare. Misalnya di pengungsian, airnya tidak mencukupi, kemudian sanitasinya tidak bagus, satu kena diare, itu bisa menyebar ke banyak orang," katanya.

Selain itu, air bersih juga menjadi kebutuhan utama dalam penyediaan makanan bagi para penyintas. Maridi mengingatkan penggunaan air yang tidak layak untuk memasak justru dapat memicu penyakit secara massal di lokasi pengungsian.

"Air yang cukup itu mengamankan pangan. Karena beras untuk makanan siap saji dimasak dengan air. Kalau dimasak dengan air kotor berarti siap-siap sakit berjamaah. Jadi memang sumber air ini di awal-awal masa bantuan darurat sangat penting," ujarnya.

Maridi menambahkan, sejumlah penyakit yang kerap muncul akibat krisis air bersih pascabencana antara lain diare, kolera, tifus, hingga penyakit kulit. Karena itu, ia menegaskan pemenuhan kebutuhan air bersih harus menjadi prioritas utama dalam 72 jam pertama penanganan bencana untuk mencegah kematian maupun munculnya wabah penyakit di lokasi terdampak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....