Plastic Smart Islands Perkuat Kolaborasi Penanganan Sampah di Berau
- 12 Mei 2026 18:22 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Berau - Pemerintah Kabupaten Berau terus memperkuat upaya pengendalian sampah plastik melalui kolaborasi lintas negara dan penguatan sistem pengelolaan sampah terpadu. Hal itu ditandai dengan pelaksanaan kegiatan Plastic Smart Islands yang digelar di salah satu hotel di Berau, Selasa 12 Mei 2026.
Kegiatan yang diinisiasi World Wide Fund for Nature (WWF) tersebut mempertemukan peserta dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand untuk berbagi pengalaman serta strategi pengelolaan sampah plastik, khususnya di wilayah pesisir dan kepulauan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, menegaskan persoalan sampah plastik kini menjadi tantangan serius yang memerlukan keterlibatan semua pihak melalui langkah konkret dan berkelanjutan.
Menurutnya, peningkatan volume sampah setiap tahun harus diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan dampak lingkungan yang lebih luas, terutama terhadap kawasan pesisir, laut, dan destinasi wisata unggulan di Berau.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2024, timbunan sampah di Kabupaten Berau mencapai sekitar 54 ribu ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 67,67 persen telah terkelola, sementara 32,33 persen lainnya masih belum tertangani secara optimal.
“Persentase komposisi sampah terus meningkat, khususnya sampah plastik yang berpotensi mencemari air tanah maupun udara. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan penanganan melalui sistem persampahan terpadu,” ujar Gamalis.
Ia menjelaskan, apabila pengelolaan sampah tidak diperkuat sejak sekarang, tempat pemrosesan akhir sampah di Berau diperkirakan mengalami kelebihan kapasitas pada tahun 2028. Karena itu, Pemkab Berau mulai mendorong pengembangan tata kelola sampah berbasis Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle atau TPS3R.
Model TPS3R dinilai mampu menjadi solusi berkelanjutan karena menerapkan pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos maupun pakan ternak berupa maggot, sementara sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Gamalis mengatakan penerapan sistem tersebut tidak hanya difokuskan di kawasan wisata Kepulauan Derawan, tetapi juga diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas di berbagai wilayah Kabupaten Berau.
Selain penguatan TPS3R, Pemerintah Kabupaten Berau juga memperkuat gerakan pengurangan sampah plastik melalui Gerakan Indonesia ASRI serta penyusunan Peraturan Bupati tentang pengurangan sampah plastik sebagai landasan pengendalian sampah yang lebih terarah.
Sementara itu, Responsible Marine Tourism Manager WWF Indonesia, Ratna, menyampaikan kegiatan Plastic Smart Islands menjadi ruang pembelajaran bersama antarnegara untuk mencari solusi pengelolaan sampah yang efektif di kawasan pulau dan wisata bahari.
"Persoalan sampah plastik menjadi isu global yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara, terutama bagi daerah yang memiliki kawasan konservasi laut dan destinasi wisata unggulan seperti Kabupaten Berau," katanya.
Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah terhadap pentingnya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai serta peningkatan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....