Membangun Wisata Inklusif dengan Melibatkan Penyandang Disabilitas

  • 05 Agt 2026 07:06 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Mewujudkan destinasi wisata yang inklusif tidak cukup hanya dengan menghadirkan wahana rekreasi yang menarik. Lebih dari itu, pengelola wisata perlu memastikan seluruh fasilitas dapat diakses oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Hal tersebut menjadi pokok pembahasan dalam dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro 1 RRI Samarinda yang menghadirkan narasumber Lina Oktaviani dari PPDI Kalimantan Timur dan Muhammad Hasan Asy Ari, Marketing Communication Samarinda Theme Park.

Dalam dialog tersebut dijelaskan bahwa hak menikmati tempat wisata merupakan bagian dari hak setiap warga negara, termasuk penyandang disabilitas. Akses terhadap rekreasi tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga mendukung interaksi sosial, pembelajaran, kesehatan mental, serta partisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat tanpa diskriminasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Salah satu langkah nyata menuju wisata inklusif ditunjukkan Samarinda Theme Park dengan mengundang sekitar 150 penyandang disabilitas beserta para pendamping untuk menikmati berbagai wahana secara gratis. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ajang evaluasi langsung terhadap aksesibilitas, keamanan, kenyamanan, hingga kualitas pelayanan yang tersedia di kawasan wisata tersebut.

Lina Oktaviani mengungkapkan bahwa hampir seluruh peserta memberikan respons positif terhadap fasilitas yang disediakan. Menurutnya, kegiatan tersebut melibatkan sekitar 24 organisasi penyandang disabilitas, sekolah luar biasa, serta peserta dari Samarinda, Kutai Kartanegara, Balikpapan hingga daerah sekitarnya. Anak-anak maupun penyandang disabilitas dewasa terlihat menikmati seluruh wahana dengan penuh antusias.

Menurut Lina, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari komitmen pengelola yang sejak awal melibatkan organisasi penyandang disabilitas dalam memberikan masukan sebelum tempat wisata mulai beroperasi. Berbagai fasilitas seperti jalur landai (ramp), toilet aksesibel, area parkir khusus, hingga peningkatan pelayanan kepada pengunjung disabilitas terus disempurnakan berdasarkan rekomendasi PPDI.

"Teman-teman disabilitas juga warga negara. Menikmati tempat wisata merupakan bagian dari hak mereka. Pariwisata bukan sekadar rekreasi, tetapi juga sarana bersosialisasi, belajar, meningkatkan kesehatan mental, dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat tanpa diskriminasi," ujar Lina Oktaviani.

Sementara itu, Muhammad Hasan Asy Ari menjelaskan bahwa sebelum Samarinda Theme Park dibuka untuk umum, pihaknya telah mengundang PPDI Kalimantan Timur untuk menguji fasilitas sekaligus memberikan pelatihan kepada seluruh karyawan mengenai pelayanan kepada penyandang disabilitas. Berbagai rekomendasi yang diberikan langsung ditindaklanjuti melalui penyempurnaan fasilitas agar lebih ramah bagi seluruh pengunjung.

Hasan yang juga merupakan penyandang disabilitas menuturkan bahwa dirinya diterima bekerja melalui proses rekrutmen yang sama seperti pelamar lainnya. Ia menegaskan bahwa perusahaan memberikan kesempatan berdasarkan kompetensi, bukan semata-mata karena status disabilitas. Menurutnya, lingkungan kerja yang inklusif membuat dirinya dapat menjalankan tugas sesuai kemampuan dan bidang keahlian yang dimiliki.

"Sebelum operasional kami sudah melibatkan PPDI untuk mencoba fasilitas dan memberikan pelatihan kepada seluruh staf. Semua masukan langsung kami tindak lanjuti agar Samarinda Theme Park benar-benar menjadi tempat wisata yang inklusif bagi teman-teman disabilitas," kata Muhammad Hasan Asy Ari.

Dalam dialog juga disampaikan sejumlah unsur penting yang seharusnya dimiliki destinasi wisata ramah disabilitas, antara lain jalur landai yang sesuai standar, toilet aksesibel, area parkir khusus, guiding block bagi penyandang netra, informasi dalam bentuk visual maupun audio, petugas yang memahami pelayanan inklusif, hingga jalur evakuasi yang dapat digunakan seluruh pengunjung tanpa terkecuali.

Di akhir dialog, kedua narasumber berharap semakin banyak pemerintah daerah maupun pengelola destinasi wisata di Kalimantan Timur yang menjadikan aksesibilitas sebagai prioritas sejak tahap perencanaan pembangunan. Pelibatan organisasi penyandang disabilitas dinilai menjadi kunci agar setiap fasilitas benar-benar sesuai kebutuhan pengguna. Dengan demikian, wisata inklusif tidak hanya menjadi slogan, tetapi hadir sebagai ruang publik yang aman, nyaman, setara, dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....