Penyandang Disabilitas Buktikan Literasi Jadi Jalan Merawat Budaya Kutai Barat

  • 27 Jul 2026 11:55 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Penyandang disabilitas kembali membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya dan memberi manfaat bagi masyarakat. Hal itu mengemuka dalam dialog "Ruang Disabilitas & Inklusi" Pro 1 RRI Samarinda, Sabtu, 25 Juli 2026, yang mengangkat tema "Kontribusi dan Peran Penyandang Disabilitas dalam Pengembangan Literasi di Kutai Barat". Dialog menghadirkan Ketua DPC PPDI Kutai Barat sekaligus penulis dan pemerhati budaya, Fidelis Nyongka, Pengurus PPDI Provinsi Kalimantan Timur Achmad Zainuddin, serta Aminudin Rifai (Amien Wangsitalaja) dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur.

Literasi dalam dialog tersebut dimaknai jauh melampaui kemampuan membaca dan menulis. Literasi dipandang sebagai ikhtiar mendokumentasikan sejarah, menjaga bahasa ibu, melestarikan budaya lokal, hingga mewariskan nilai-nilai kepada generasi penerus. Di tengah derasnya arus modernisasi, upaya tersebut dinilai menjadi benteng penting agar identitas budaya daerah tidak hilang ditelan zaman.

Salah satu sosok yang menjadi inspirasi adalah Fidelis Nyongka. Meski menyandang disabilitas, ia telah mengabdikan hidupnya untuk meneliti budaya Kutai Barat, menulis buku, serta mengembangkan gerakan literasi berbasis kearifan lokal melalui Lembaga Riset Lokal Etno Kinu Kempunan. Tahun ini, sedikitnya tiga karya budaya berhasil disiapkan, yakni Pelangi Sendawar yang memuat kumpulan cerita rakyat, Monaq dan Ringan: Legenda dari Tanah Dayak, serta Sejarah Lamin Tolan, Mancong, Benung, dan Pepas Eheng.

Selain menghasilkan berbagai karya tulis, Fidelis juga aktif menyusun proposal pengembangan modul pembelajaran sekolah adat bagi anak usia dini masyarakat adat Kutai Barat. Program tersebut menjadi bagian dari inisiatif pelestarian budaya yang diharapkan mampu memperkuat penguasaan bahasa daerah, sejarah lokal, seni, hingga pengetahuan tradisional di kalangan generasi muda sejak usia dini.

"Keprihatinan kami adalah semakin banyak generasi muda yang tidak lagi memahami bahasa ibunya sendiri. Kalau tidak mulai didokumentasikan sekarang, cerita rakyat, bahasa, dan sejarah lokal bisa hilang bersama para penuturnya. Karena itu saya memilih literasi sebagai jalan pengabdian untuk menjaga warisan budaya Kutai Barat," ujar Fidelis Nyongka.

Menurut Fidelis, hingga kini telah berdiri lima sekolah adat di Kutai Barat yang dikelola secara swadaya masyarakat. Sekolah-sekolah tersebut menjadi ruang belajar bahasa daerah, etnografi, kuliner tradisional, seni, hingga pengetahuan tumbuhan obat. Ke depan, ia berharap pemerintah daerah dapat menghadirkan regulasi yang memberi dukungan anggaran sehingga keberlangsungan sekolah adat semakin terjamin.

Dari perspektif pemberdayaan penyandang disabilitas, Achmad Zainuddin menegaskan bahwa literasi merupakan pintu masuk menuju kesetaraan. Literasi tidak hanya membentuk kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga melahirkan kemampuan memahami informasi, memanfaatkan teknologi, hingga memperjuangkan hak-hak sebagai warga negara.

"Ketika penyandang disabilitas menguasai literasi, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan, pekerjaan, bahkan berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik. Yang harus kita bangun sekarang adalah masyarakat yang benar-benar inklusif, dimulai dari keluarga hingga lingkungan sekitar," kata Achmad Zainuddin.

Ia menilai keberhasilan Fidelis menjadi bukti nyata bahwa penyandang disabilitas bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan mampu menjadi penggerak perubahan sosial. Karena itu, PPDI Kalimantan Timur berkomitmen terus membangun kolaborasi dengan berbagai pihak agar semakin banyak ruang berkarya terbuka bagi penyandang disabilitas.

Sementara itu, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur memandang inklusivitas sebagai tantangan sekaligus peluang dalam pengembangan literasi. Aminudin Rifai mengakui bahwa masih diperlukan berbagai inovasi agar layanan literasi dapat diakses secara setara oleh penyandang disabilitas sensorik, termasuk melalui penyediaan buku braille, buku audio, bahasa isyarat, hingga berbagai program literasi adaptif yang lebih ramah disabilitas.

"Pada prinsipnya tidak ada pembedaan dalam layanan literasi. Tantangan kami adalah menghadirkan fasilitas yang benar-benar dapat diakses oleh teman-teman penyandang disabilitas, khususnya yang memiliki hambatan penglihatan maupun pendengaran. Kolaborasi dengan PPDI dan komunitas menjadi langkah penting untuk mewujudkannya," ucap Aminudin Rifai.

Dialog juga mendapat respons positif dari masyarakat. Sejumlah pendengar mengapresiasi kiprah Fidelis Nyongka sebagai penulis budaya, bahkan menyampaikan keinginan agar karya-karyanya dapat dimanfaatkan lebih luas oleh sekolah maupun komunitas literasi di berbagai daerah. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa karya-karya lokal masih memiliki tempat penting dalam memperkuat identitas daerah sekaligus membangun kesadaran budaya di tengah masyarakat.

Melalui kisah inspiratif para narasumber, dialog "Ruang Disabilitas & Inklusi" menegaskan bahwa disabilitas bukanlah batas untuk berkarya. Justru melalui literasi, penyandang disabilitas mampu menjadi penjaga memori kolektif masyarakat, penggerak pelestarian budaya, sekaligus inspirasi bahwa semangat, pengetahuan, dan kepedulian terhadap warisan daerah dapat melampaui segala keterbatasan. Kolaborasi pemerintah, komunitas, lembaga bahasa, dan masyarakat diharapkan terus diperkuat agar semakin banyak lahir penulis, peneliti, dan pegiat literasi dari kalangan penyandang disabilitas yang turut mewarnai pembangunan Kalimantan Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....