Bukan Sekadar Menanam, Kementan Kejar Panen hingga Tiga Kali Setahun
- 03 Jul 2026 13:46 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Strategi pemerintah memperkuat swasembada pangan kini tidak lagi hanya bertumpu pada perluasan lahan sawah. Kementerian Pertanian mulai mengubah pendekatan dengan mendorong petani meningkatkan frekuensi tanam sehingga lahan yang sama dapat dipanen hingga tiga kali dalam setahun.
Strategi tersebut menjadi bagian dari Gerakan Tanam Serentak 50.000 hektare yang dilaksanakan di 25 provinsi, termasuk di Kelurahan Sambutan, Kota Samarinda, 3 Juli 2026. Selain mempercepat masa tanam, program ini diarahkan untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP) agar produktivitas lahan terus bertambah tanpa harus membuka kawasan pertanian baru.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Kementerian Pertanian, Dr. Muhammad Amin, mengatakan peningkatan indeks pertanaman menjadi salah satu fokus pemerintah dalam mengoptimalkan lahan pertanian yang telah tersedia.
"Optimalisasi lahan dan program cetak sawah rakyat bertujuan meningkatkan indeks pertanaman. Yang tadinya satu kali tanam kita tingkatkan menjadi dua kali, yang dua kali menjadi tiga kali," katanya.
Menurut Muhammad Amin, pendekatan tersebut dinilai lebih efektif karena mampu meningkatkan produksi beras dalam waktu lebih cepat. Dengan dukungan perbaikan irigasi, mekanisasi, pendampingan penyuluh, serta penggunaan teknologi budidaya, lahan yang sebelumnya hanya menghasilkan satu kali panen dapat dimanfaatkan lebih optimal sepanjang tahun.
Di Kalimantan Timur, strategi tersebut menjadi semakin penting. Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) diproyeksikan meningkatkan jumlah penduduk dan kebutuhan pangan dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi itu menuntut sektor pertanian tidak hanya mempertahankan luas lahan, tetapi juga meningkatkan hasil produksi dari setiap hektare sawah yang ada.
Melalui program Optimalisasi Lahan (OPLAH), pemerintah mendorong sawah-sawah produktif agar tidak dibiarkan menganggur setelah panen. Lahan yang telah dipanen diharapkan segera kembali diolah sehingga mampu menghasilkan panen berikutnya dalam satu tahun.
"Tidak ada satu jengkal pun lahan sawah yang kosong. Harus kita tanami dan kita optimalkan," ujarnya.
Perubahan strategi ini juga menunjukkan pergeseran arah pembangunan pertanian nasional. Jika sebelumnya peningkatan produksi identik dengan pembukaan lahan baru, kini pemerintah lebih menitikberatkan pada efisiensi pemanfaatan lahan yang sudah tersedia melalui peningkatan indeks pertanaman dan penerapan teknologi modern.
Langkah tersebut dinilai lebih berkelanjutan karena tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menjaga keberlangsungan lahan pertanian di tengah tekanan alih fungsi lahan dan perkembangan kawasan perkotaan. Bagi Kalimantan Timur, strategi ini menjadi peluang memperkuat kemandirian pangan sekaligus mempersiapkan pasokan beras yang lebih stabil untuk mendukung pertumbuhan wilayah penyangga IKN.
Ke depan, keberhasilan swasembada pangan tidak lagi hanya diukur dari luas sawah yang dimiliki suatu daerah, melainkan dari seberapa produktif lahan tersebut dimanfaatkan. Dengan meningkatkan frekuensi panen hingga tiga kali setahun, pemerintah berharap setiap hektare sawah mampu memberikan hasil lebih besar bagi petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....