Tantangan Penggunaan Bahasa Indonesia di Era Lintas Generasi
- 04 Jun 2026 15:40 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Penggunaan bahasa Indonesia di tengah perkembangan teknologi dan media sosial menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda saat ini. Perubahan pola komunikasi antargenerasi dinilai turut memengaruhi cara masyarakat menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Noviana, Duta Bahasa Kaltimtara 2023, menjelaskan bahwa peran duta bahasa bukan sebagai “polisi bahasa” yang bertugas mencari kesalahan orang lain. Menurutnya, duta bahasa hadir untuk mengajak masyarakat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteks penggunaannya.
“Sebagai duta bahasa, kami tidak serta-merta menjadi polisi bahasa. Kami bersama-sama mengarahkan masyarakat untuk dapat menggunakan bahasa Indonesia yang lebih baik dan benar sesuai dengan tempat dan situasinya,” ujar Noviana kepada RRI dikutip Kamis 4 Juni 2026.
Ia menambahkan bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan berarti harus selalu kaku dan baku dalam setiap kesempatan. Menurutnya, penggunaan bahasa harus disesuaikan dengan lingkungan, baik dalam situasi formal maupun nonformal, tanpa menghilangkan identitas kebahasaan sebagai bangsa Indonesia.
Noviana juga menyoroti adanya perbedaan penggunaan bahasa antargenerasi, mulai dari generasi baby boomer, milenial, hingga Generasi Z. Ia menjelaskan bahwa generasi yang lebih tua cenderung menggunakan bahasa yang lebih formal, sedangkan generasi muda lebih sering memadukan bahasa Indonesia dengan istilah asing, bahasa gaul, maupun singkatan yang berkembang di media sosial.
“Yang perlu menjadi perhatian adalah bahasa Indonesia tetap harus menjadi jati diri kita sebagai warga Indonesia. Meskipun ada pengaruh bahasa asing dan perkembangan media digital, identitas tersebut tidak boleh hilang,” katanya.
Sementara itu, Duta Bahasa Kaltimtara 2024, Muhammad Rafli Atmajaya, menilai bahwa duta bahasa memiliki peran penting sebagai penghubung antargenerasi. Menurutnya, perbedaan kosakata dan gaya berbahasa yang semakin beragam dapat menimbulkan kesenjangan komunikasi apabila tidak disikapi dengan bijak.
“Peran duta bahasa di sini adalah sebagai penghubung lintas generasi. Kami bukan untuk menyalahkan, melainkan mengarahkan masyarakat agar tetap menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,” ujar pria yang akrab disapa Atma ini.
Ia menambahkan bahwa edukasi kebahasaan dapat dilakukan melalui berbagai media, termasuk media sosial yang dekat dengan generasi muda. Penyampaian informasi melalui infografis, konten edukatif, dan penggunaan bahasa Indonesia yang tepat dalam ruang digital dinilai dapat menjadi langkah efektif untuk meningkatkan kesadaran berbahasa.
Melalui berbagai program dan kampanye kebahasaan, para duta bahasa berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tetap bangga menggunakan bahasa Indonesia. Dengan demikian, perkembangan zaman dan arus globalisasi dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas serta kekayaan bahasa nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....