Sekolah Politik, Bangun Kesadaran Demokrasi Perempuan Muda di Samarinda
- 11 Mei 2026 09:17 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Rendahnya minat anak muda, khususnya perempuan, terhadap isu politik dinilai masih menjadi tantangan dalam mendorong keterlibatan perempuan di ruang demokrasi dan pengambilan kebijakan.
Pendiri Voice of Democracy Indonesia (Vodem.id), John Ias Ganesa Simamora mengatakan, keterwakilan perempuan sebesar 30 persen di lembaga politik maupun penyelenggara pemilu hingga kini masih belum tercapai. Karena itu, menurutnya, perempuan muda perlu didorong agar lebih memahami politik dan berani mengambil peran.
Salah satunya, adalah melalui kegiatan Sekolah Politik Perempuan bertajuk “Dari Suara Perempuan Menuju Kebijakan” yang digelar di NutriHub Samarinda New, Jalan Juanda, Air Hitam, Sabtu, 9 Mei 2026.
"Berdasarkan data CSIS pun anak muda yang mau dan tertarik terhadap isu dalam politik itu sangat kecil sekali,” ujarnya John, dikutip pada Senin, 11 Mei 2026.
Ia menilai, masih banyak perempuan muda yang memandang politik sebatas urusan elite atau kontestasi pemilu. Padahal, politik berkaitan langsung dengan kebijakan yang memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari, termasuk perempuan.
Karena itu, pihaknya mencoba membangun kesadaran (awareness) melalui berbagai kegiatan diskusi agar anak perempuan memiliki ruang belajar yang aman dan setara untuk memahami demokrasi.
“Kami mau menumbuhkan rasa awareness terhadap anak muda terkhusus perempuan untuk mau mengambil peran dalam dunia politik dan demokrasi,” kat John.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya membahas teori politik, tetapi juga mendorong perempuan memahami hak-hak demokrasi serta keberanian menyampaikan aspirasi dari pengalaman narasumber yang kompeten. Ialah Rega Armella, akademisi UINSI sekaligus Pemenang Gender Champion Samarinda Tahun 2025.
a
"Rega pernah mewakili UINSI untuk Kemenag dalam kegiatan pengarusutamaan gender. Kemudian beliau juga sering menulis terkait gender dan beliau juga merupakan pemenang dari Gender Champions Samarinda tahun 2025. Dengan kapasitas yang beliau miliki beliau sangat cocok untuk menjelaskan isu-isu gender dan perempuan dalam membuat kebijakan.
Tidak hanya Sekolah Politik Perempuan, John menuturkan, selama ini komunitasnya juga rutin mengadakan webinar, diskusi publik, hingga sekolah demokrasi yang membahas isu serupa secara berkala.
“Kami berharap anak-anak muda terkhusus perempuan bisa ikut ambil andil dan berimpact, karena saya percaya kalau semuanya mengambil peran masing-masing kita akan lebih baik,” ucapnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....