Bontang Perkuat Peran Tenaga Medis Cegah Stunting lewat Komunikasi Empatik
- 04 Jun 2026 06:42 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Bontang - Upaya percepatan penurunan tengkes atau stunting di Kota Bontang tidak hanya difokuskan pada intervensi gizi dan layanan kesehatan, tetapi juga penguatan cara komunikasi tenaga medis kepada masyarakat.
Pemerintah Kota Bontang menilai perubahan perilaku hidup sehat di tengah masyarakat hanya dapat tercapai apabila edukasi kesehatan disampaikan dengan pendekatan yang mudah dipahami, santun dan penuh empati.
Karena itu, Dinas Kesehatan Kota Bontang menggelar Orientasi Penguatan Komunikator Metode Komunikasi Antarpribadi atau KAP bagi 71 tenaga kesehatan selama dua hari di salah satu hotel di Bontang, mulai Rabu 3 Juni 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkuat kemampuan komunikasi tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan stunting dan pola hidup sehat.
Menurutnya, komunikasi yang baik menjadi bagian penting dalam keberhasilan program kesehatan masyarakat karena tidak semua warga dapat menerima edukasi kesehatan dengan pendekatan formal dan teknis.
Orientasi tersebut menjadi bagian dari implementasi Pilar Kedua Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting sesuai Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021.
Untuk memperkuat kapasitas peserta, Dinkes Bontang menghadirkan narasumber dari Forum KAP Jakarta dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo yang telah berpengalaman dalam pendekatan komunikasi kesehatan masyarakat.
Tak hanya menerima materi di dalam kelas, para tenaga kesehatan juga langsung diterjunkan melakukan praktik lapangan ke posyandu, kelas ibu hamil, Bina Keluarga Balita atau BKB hingga lingkungan sekolah.
Materi edukasi yang disampaikan kepada masyarakat meliputi penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS, pemenuhan gizi keluarga hingga pentingnya sanitasi lingkungan.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, yang membuka kegiatan tersebut menegaskan pelatihan tidak boleh berhenti sebatas seremoni, melainkan harus memberikan dampak nyata terhadap penurunan angka stunting di Kota Bontang.
“Pelatihan ini harus menghasilkan dampak nyata sehingga target penurunan stunting di Kota Bontang dapat tercapai,” ujarnya.
Menurut Neni, tenaga kesehatan memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat di lapangan.
Ia menilai kemampuan komunikasi yang persuasif dan humanis menjadi kunci agar pesan kesehatan lebih mudah diterima masyarakat, terutama dalam membangun kesadaran menjaga kesehatan ibu dan anak sejak dini.
Kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan Bapperida, DP3AKB, jajaran Dinas Kesehatan hingga pimpinan BLUD Puskesmas se-Kota Bontang sebagai bentuk penguatan kolaborasi lintas sektor dalam penanganan stunting.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....