Sekolah Rakyat Terintegrasi 58, Lentera di Tengah Keterbatasan
- 24 Jan 2026 09:13 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berada di Jalan Erry Suparjan, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara. Sejak mulai beroperasi pada September 2025, sekolah ini membuka kembali akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang sebelumnya terhambat melanjutkan sekolah.
Sebanyak 75 siswa kini belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 58. Mereka terdiri dari 50 siswa SD dan 25 siswa SMA. Anak-anak tersebut datang dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Timur, yakni Samarinda, Balikpapan, Berau, Paser, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat.
Mereka datang membawa semangat dan harapan yang serupa, yaitu cerdas bersama dan tumbuh setara. Seperti halnya Asdar (18), salah satu siswa kelas XI SMA yang juga menjabat sebagai ketua OSIS.
Asdar berasal dari Sulawesi Selatan. Bersama orang tuanya, ia merantau ke Kalimantan Timur untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Selama kurang lebih dua tahun, mereka tinggal di Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, wilayah yang dikenal kaya akan sumber daya alam.
Namun, keterbatasan ekonomi membuat Asdar harus berhenti sekolah. Setelah lulus SMP, Asdar memutuskan memilih bekerja di kebun sawit untuk membantu orangtuanya.
"Dulu saya sempat kerja di persawitan di kilometer (KM) 48 selama sekitar 1,5 tahun. Saya bekerja saat umur 17 tahun. Setiap hari bekerja, tidak ada istirahat," ujar Asdar, kepada rri.co.id, Jumat, 23 Januari 2026.
Selama bekerja di kebun sawit, Asdar mengaku keinginannya untuk kembali bersekolah tidak pernah hilang. Ia menyadari pendidikan menjadi jalan untuk mengubah masa depan, meski kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus menunda sekolah.
“Keinginan sekolah itu selalu ada, tapi waktu itu belum bisa,” ucapnya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, kesempatan yang ia dambakan pun akhirnya datang. Melalui Program Keluarga Harapan (PKH), Asdar ditawari untuk kembali mengenyam pendidikan melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi, program yang digagas pemerintah untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Ada tugas dari PKH, ditanya mau sekolah atau tidak. Dijelaskan ini program dari gagasan Bapak Presiden, akhirnya saya coba daftar. Alhamdulillah dapat sekolah sebagus ini,” ujarnya, sembari tersenyum senang.
Asdar yang sempat putus sekolah selama dua tahun setelah lulus SMP, kini kembali duduk di bangku kelas XI SMA. Ia mengaku bersyukur bisa melanjutkan pendidikan dan bertemu teman-teman baru dengan latar belakang serupa.
Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 58, Asdar menjalani aktivitas harian yang terstruktur. Ia bersama siswa lainnya memulai kegiatan sejak subuh sebelum mengikuti pembelajaran pada pagi hari.
"Bangun salat subuh berjamaah, makan pagi bersama, terus salat duha, dilanjutkan kegiatan pembelajaran. Kita juga salat lima waktu dan tadarusan," kata Asdar, menjelaskan.
Ia pun berharap pendidikan yang kini dijalaninya dapat membuka peluang yang lebih baik dan membuat bangga orangtuanya.
"Saya bercita-cita menjadi pengusaha sawit, semoga bisa terwujud," kata Asdar, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....