Sleep Paralysis (Ketindihan): Penjelasan Medis Fenomena yang dianggap Mistis

  • 02 Okt 2026 14:20 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Fenomena ketindihan atau sleep paralysis masih sering dikaitkan dengan hal-hal mistis. dr. Andreas Prasaja, RPSGT, di kanal Youtube Radiyta Dika menjelaskan kondisi tersebut merupakan gangguan mekanisme tidur yang dapat dijelaskan secara medis.

Sleep paralysis terjadi ketika fase tidur REM (Rapid Eye Movement) bertumpang tindih dengan kondisi sadar. Pada fase ini, otak secara alami melumpuhkan sebagian besar otot tubuh sebagai mekanisme perlindungan agar seseorang tidak melakukan gerakan sesuai dengan mimpi yang sedang dialami.

Masalah muncul ketika seseorang terbangun secara tiba-tiba saat masih berada dalam fase REM. Kesadaran telah kembali, tetapi tubuh belum sepenuhnya keluar dari kondisi kelumpuhan sementara sehingga penderita merasa tidak mampu bergerak, berbicara, bahkan sering disertai sensasi sesak di dada.

Pengalaman seperti melihat sosok menyeramkan, merasakan kehadiran makhluk tertentu, atau merasa dada tertindih sebenarnya merupakan halusinasi hipnagogik (hypnagogic hallucinations). Kondisi ini terjadi karena otak masih berada pada transisi antara mimpi dan keadaan sadar, sehingga rasa takut dapat memunculkan persepsi visual maupun sensorik yang terasa nyata.

Kurang tidur merupakan faktor yang paling sering memicu sleep paralysis. Selain itu, pola tidur yang tidak teratur, tingkat stres yang tinggi, serta perubahan jadwal tidur secara berulang juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi tersebut.

Untuk mengurangi kemungkinan mengalami sleep paralysis, dr. Andreas Prasaja, RPSGT, menyarankan agar masyarakat menerapkan jadwal tidur yang konsisten dan menjaga kualitas tidur setiap malam. Pengelolaan stres serta melakukan relaksasi sebelum tidur juga dinilai efektif dalam membantu menurunkan risiko kemunculannya.

Memahami sleep paralysis berdasarkan penjelasan medis dapat membantu masyarakat melihat fenomena ini secara lebih rasional. Dengan menjaga pola tidur yang sehat dan konsisten, risiko mengalami ketindihan dapat diminimalkan sekaligus mengurangi kecemasan yang sering menyertainya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....