Sulit Berkata “Tidak”: Seni Menetapkan Batasan yang Sehat

  • 01 Sep 2026 09:49 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Ponsel berdering saat jam kerja hampir usai. Rekan kantor meminta bantuan menyelesaikan laporan, meski tubuh sudah lelah.

Tanpa berpikir panjang, balasan yang terkirim sering kali hanya satu kata, “iya”. Padahal, hati sebenarnya ingin beristirahat.

Kebiasaan mengiyakan segala permintaan banyak dialami orang di usia produktif. Alasannya bukan selalu mampu, melainkan takut mengecewakan orang lain.

Dalam psikologi, kemampuan menetapkan boundaries atau batasan pribadi menjadi keterampilan penting. Batasan membantu seseorang menjaga kesehatan mental sekaligus hubungan sosial.

Banyak orang tumbuh dengan anggapan bahwa pribadi yang baik tidak boleh menolak. Akibatnya, rasa bersalah muncul setiap kali ingin berkata “tidak”.

Padahal, menolak sebuah permintaan tidak sama dengan menolak seseorang. Yang ditolak hanyalah situasi atau kapasitas yang sedang terbatas.

Boundaries juga bukan berarti menjadi dingin atau menjauh dari orang lain. Justru batasan yang sehat membuat hubungan terasa lebih jujur dan saling menghargai.

Ada beberapa tanda batasan pribadi mulai terabaikan. Di antaranya sering berkata “iya”, sulit mengambil waktu untuk diri sendiri, dan mudah kelelahan.

Kondisi itu dapat memicu stres hingga kelelahan emosional. Energi terus terkuras karena selalu berusaha memenuhi harapan semua orang.

Belajar berkata “tidak” bisa dimulai dengan kalimat yang sopan dan jelas. Misalnya, menawarkan waktu lain ketika memang belum sanggup membantu saat itu.

Pada akhirnya, merawat diri bukanlah tindakan egois. Dengan menjaga batasan yang sehat, kita tetap dapat hadir untuk orang lain tanpa kehilangan diri sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....