Delapan Kebiasaan yang Bikin Mental Lebih Tahan Banting
- 19 Jul 2026 19:03 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID,Natuna - Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Mental yang kuat bukan berarti tidak pernah sedih, bukan berarti tidak pernah takut, bukan berarti kalau dimarahi, dihina, ditekan, lalu wajah itu tetap datar seperti patung di ruang tunggu. Mental yang kuat artinya memiliki cara untuk kembali berdiri ketika hidup sedang tertekan. Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP.
Untuk memiliki mental yang lentur dan tidak mudah patah ada beberapa kebiasaan yang bisa dilakukan :
Tidur yang cukup. Nah, ini terdengar cukup sederhana tapi sangat penting. Otak yang kurang tidur lebih mudah cemas, lebih mudah emosional, lebih sulit berpikir jernih, dan lebih sulit mengatur stres. Banyak orang yang ingin mentalnya kuat tapi tidur hanya 4 jam, dan saat bangun langsung menikmati kopi, lalu siangnya panik, malamnya scrolling, kemudian merasa heran kenapa kepalanya terasa penuh. Otak bukan mesin fhotocopy yang bisa dipakai terus sampai bunyinya aneh. Tidur adalah waktu otak untuk membersihkan, menata, dan memperbaiki system, jika tidurnya rusak, maka mental akan lebih mudah goyang.
Punya minimal satu orang tempat bercerita. Tidak harus banyak, satu orang yang aman saja sudah sangat berharga. Orang yang tidak langsung menghakimi, orang yang bisa mendengar tanpa membuat kita merasa kecil. Karena tekanan mental seringki menjadi jauh lebih berat ketika ditanggung sendirian. Manusia adalah makhluk sosial. Bahkan HP saja butuh jaringan untuk berfungsi maksimal, masa manusia diminta menghadapi semua masalah tanpa ada sinyal dukungan. Nah jika belum memiliki orang seperti itu, maka mulai sekarang bangun pelan-pelan. Keluarga, sahabat, rekan kerja yang aman, komunitas, konselor, psikolog, atau tenaga kesehatan.
Belajar memberi nama pada emosi. Banyak orang hanya tahu dua kondisi, baik-baik saja atau kacau. Padahal emosi itu banyak seperti kecewa, takut, malu, marah, lelah, tidak dihargai, merasa bersalah, dan merasa terancam. Memberi nama pada emosi membuat otak lebih mudah mengaturnya. Coba biasakan bertanya yang saya rasakan sekarang ini apa? Bukan untuk drama ya, tapi untuk memahami diri. Emosi yang tidak dikenali sering berubah menjadi ledakan, emosi yang dikenali lebih mudah dikelola seperti file di computer, jika namanya semua new folder maka kita akan bingung sendiri.
Bergerak rutin. Olahraga bukan pengganti terapi untuk semua masalah mental tapi aktivitas fisik teratur yang bisa membantu mood, tidur, energi, dan rasa kendali terhadap tubuh kita. Jalan kaki 20 sampai 30 menit saja bisa menjadi jeda yang baik dari kepala yang penuh. Saat kita bergerak, tubuh akan memberi sinyal bahwa kita masih punya kendali kecil atas hidup kita. Tidak harus langsung ke gym, tidak harus lari jarak jauh, tidak harus beli outfit seperti atlet. Jalan di sekitar rumah juga sah, yang penting itu dilakukan, kadang langkah kecil di jalan adalah langkah besar untuk kepala kita yang sedang penat.
Baca juga: Tips Hidup Sehat dan Awet MudaKurangi paparan racun digital. Bukan berarti semua media sosial itu buruk, tapi kalau setiap hari kita menelan berita marah, komentar jahat, perbandingan hidup kita dan hidup orang lain, debat tanpa ujung, dan notifikasi yang datang seperti petasan, otaknya bisa lelah. Apalagi kalau kita sedang rapuh, komentar kecil bisa terasa besar. Jadi, buatlah Batasan dengan cara matikan notifikasi yang tidak perlu, jangan membaca semua komentar jahat sebelum tidur, jangan jadikan HP sebagai benda pertama yang dilihat saat bangun. Hidup kita terlalu berharga untuk dimulai dan diakhiri oleh algoritma.
Punya batas yang sehat. Nah, ini hal yang sulit terutama untuk orang yang terbiasa menyenangkan semua orang. Tapi batas itu penting, berani berkata, "Saya tidak bisa sekarang. Saya masih perlu waktu lagi. Saya tidak nyaman diperlakukan seperti itu." Atau silakan gunakan jalur resmi. Itu adalah bagian dari menjaga diri. Dalam pekerjaan termasuk tenaga kesehatan, batas profesional itu harus dihormati, menolong orang bukan berarti boleh dihina, melayani masyarakat bukan berarti boleh diancam, hati yang baik tetap perlu pagar, rumah yang indah saja kalau tidak ada pintunya bisa dimasuki sembarang orang.
Cari bantuan lebih awal. Banyak orang baru mencari bantuan saat sudah sangat jatuh, padahal psikolog, psikiater, dokter, konselor, atau orang yang terpercaya bisa membantu lebih awal. Mencari bantuan bukan tanda lemah, itu tanda otaknya masih ingin bertahan. Kita tidak malu ke dokter saat demam, kita tidak malu ke bengkel saat rem mobil berbunyi, tapi kenapa saat pikiran terasa gelap, kita merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian. Kalau mulai sulit tidur berat, kehilangan minat, terasa tidak berharga, sering menangis, sulit bekerja, menarik diri, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri, maka jangan tunggu, segera cari bantuan.
Bangun makna kecil setiap hari. Mental manusia itu lebih kuat ketika merasa hidupnya masih punya arah, tidak harus tujuan besar seperti merubah dunia. Bisa sederhana, misalnya hari ini saya mandi, saya makan, saya jalan 10 menit, saya membalas satu pesan, saya menyelesaikan satu tugas, saya menemani anak, saya bantu satu orang. Saat hidup terasa berat, jangan paksa diri memikirkan 1 tahun ke depan, cukup pikirkan satu hari saja. Kadang satu hari yang berhasil dilewati adalah kemenangan besar yang tidak dilihat oleh orang lain.
Penelitian tentang tekanan sosial dan bullying itu menunjukkan bahwa intimidasi bukanlah hal yang sepele. Metaanalisis oleh H dan kawan-kawan di pediatriks tahun 2015 sudah menemukan bahwa keterlibatan dalam bullying itu berkaitan dengan peningkatan risiko pikiran dan perilaku mengakhiri hidup. Jadi membangun mental tahan banting itu bukan berarti membiarkan orang itu diintimidasi lalu menyuruhnya kuat, keduanya harus jalan. Individu perlu dukungan dan keterampilan untuk bertahan, sementara lingkungan itu wajib berhenti menjadi sumber luka, mental yang sehat bukan cuman urusan pribadi, melainkan juga urusan budaya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....