Delapan Kelainan Jantung dan Pembuluh Darah Penyebab Stroke
- 24 Jun 2026 16:47 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID,Natuna - Banyak orang mengira stroke itu hanya urusan otak, padahal dalam banyak kasus sumber masalahnya bisa dari jantung dan juga pembuluh darah. Melansir dari laman Alodokter, penyebab stroke adalah terganggunya aliran darah ke otak, baik akibat pembuluh darah yang tersumbat maupun pecah.
Kondisi ini menyebabkan jaringan otak tidak memperoleh oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsinya. Otaknya yang kena tapi biang keroknya kadang berangkat dari tempat yang lain. Kalau keluarga kita punya hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, riwayat merokok, obesitas, atau pernah berdebar-debar tidak jelas maka perlu diwaspadai karena bisa jadi ini merupakan tanda kelainan jantung dan juga pembuluh dara yang bisa menyebabkan stroke. Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP :
Ada beberapa kelainan jantung yang perlu diwaspadai :
Fibrilasi atrium. Nah, ini adalah salah satu gangguan irama jantung yang seringki tidak disadari. Jantung normalnya berdetak teratur seperti drum band yang latihannya itu rajin degdeg. Tapi pada fibrilasi atrium iramanya itu kacau. Kadang cepat kadang tidak beraturan. Masalahnya saat ruang jantung bergetar tidak efektif, maka darah bisa menggenang dan membentuk bekuan. Bekuan ini bisa lepas mengikuti aliran darah, naik ke otak, lalu menyumbat pembuluh darah di otak dan ini disebut sebagai stroke emboli. Jadi, kalau misalnya orang tua sering mengeluh, berdebar, mudah lelah, sesak, atau denyut nadinya tidak teratur, maka jangan hanya dibilang, "Ah, paling masuk angin." Masuk angin tidak membuat irama jantung jadi freestyle.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi. Nah, ini adalah penyebab stroke yang sangat besar dan seringkiali diremehkan. Hipertensi bisa merusak pembuluh darah pelan-pelan, dinding pembuluh darah yang terus menerima tekanan tinggi juga bisa menjadi kaku, menebal, mudah rusak, atau pada kondisi tertentu bisa pecah. Hipertensi itu berhubungan dengan stroke sumbatan maupun stroke pendarahan yang berbahaya, banyak pasien hipertensi merasa sehat, tidak pusing, tidak nyeri, tidak ada keluhan, lalu obatnya dihentikan. Padahal pembuluh darah tidak menunggu kita merasa sakit dulu untuk rusak. Tekanan darah tinggi itu seperti cicilan, diam-diam jalan terus, tahu-tahu tagihannya besar.
Penyempitan pembuluh darah leher atau stenosis karotis. Pembuluh darah karotis adalah jalur penting yang mengantar darah ke otak. Kalau di dalamnya terbentuk plak kolesterol, maka alirannya bisa menyempit. Kadang plak ini juga bisa pecah dan mengirim serpihan kecil ke otak. Akibatnya bisa terjadi stroke atau serangan stroke ringan yang disebut sebagai TIIA atau Transient Ischemic Attack. Gejalanya bisa berupa bicara pelo, wajah mencong, tangan atau kaki lemah sebelah, pandangan terganggu, lalu membaik lagi.
Penyakit jantung koroner, terutama setelah serangan jantung. Setelah serangan jantung, sebagian otot jantung bisa melemah atau gerakannya tidak normal. Pada beberapa kondisi, darah itu bisa lebih mudah terbentuk membentuk bekuan di dalam jantung. Kalau bekuan ini lepas, maka bisa berjalan ke otak dan menyebabkan stroke. Karena itu, pasien pasca serangan jantung itu perlu kontrol teratur, minum obat sesuai anjuran, dan menjalani pemeriksaan seperti EKG atau echo kardiografi bila diperlukan. Jangan hanya fokus pada pertanyaan nyeri dadanya sudah hilang belum. Kita juga perlu bertanya, fungsi jantungnya bagaimana? Iramanya aman, ada risiko bekuan darah atau tidak?
Penyakit katup jantung. Katup jantung itu seperti pintu satu arah,
tugasnya memastikan darah mengalir ke arah yang benar. Kalau katupnya menyempit atau bocor berat, maka aliran darah bisa terganggu, ruang jantung bisa membesar, dan irama jantung bisa ikutan kacau. Pada beberapa penyakit katup jantung, terutama yang berhubungan dengan fibrilasi atrium atau katup buatan, risiko terbentuknya bekuan darah ini bisa meningkat. Ini sebabnya sebagian pasien katup jantung membutuhkan obat pengencer darah. Tapi jenis dan kebutuhannya harus dikonsultasikan dengan dokter yang menangani. Jangan minum obat pengencer darah sendiri hanya karena dengar katanya bagus. Karena obat itu bukan kerupuk, tidak semua kondisi cocok ditambah begitu saja.
Infeksi pada katup jantung atau endokarditis. Ini memang tidak sesering hipertensi, tapi penting untuk dikenali. Pada endokarditis, kuman bisa menempel di katup jantung dan membentuk gumpalan infeksi kecil yang disebut vegetasi. Bila sebagian gumpalan ini lepas dan terbawa aliran darah ke otak, maka akan terjadi stroke. Gejalanya bisa berupa demam lama yang tidak jelas, lemas, berat badan turun, keringat malam, atau ada riwayat penyakit katup, tindakan medis tertentu atau penggunaan jarum yang tidak steril. Nah, ini bukan untuk membuat panik, tapi agar kita tidak meremehkan demam berkepanjangan pada orang dengan risiko penyakit jantung tertentu.
Lubang kecil antar serabi jantung yang disebut sebagai paten foramen ovale atau PFO. Pada sebagian orang PFO itu tidak menimbulkan masalah seumur hidup. Tapi pada kondisi tertentu, terutama bila ada bekuan darah dari pembuluh balik kaki, maka bekuan itu bisa menyeberang lewat lubang dan menuju ke otak. Nah, ini disebut sebagai emboli paradoksikal, dan tidak semua PFO itu harus ditutup. Keputusannya harus sangat selektif, biasanya pada pasien tertentu dengan stroke yang tidak jelas penyebabnya setelah pemeriksaan lengkap. Dalam kedokteran ukuran, lokasi, gejala, dan konteks semuanya penting.
Penyakit pembuluh darah besar termasuk plak di aorta. Aorta adalah pembuluh darah utama yang keluar dari jantung. Bila ada plak aterosklerosis yang besar di sana, serpihannya bisa ikut aliran darah dan menyebabkan sumbatan di otak. Nah, ini sering berkaitan dengan faktor resiko yang sama. Usia, merokok, hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, kurang aktivitas fisik, dan pola makan yang buruk. Jadi, pencegahan stroke itu bukan hanya urusan satu organ. Otak, jantung, ginjal, pembuluh darah, gula darah, tekanan darah, kolesterol, berat badan, tidur, dan rokok semuanya saling terhubung.
Dalam dunia stroke, telat sedikit itu bisa beda nasibnya dan ini adalah fakta kehidupan. Pencegahannya terdengar sederhana, tapi pelaksanaannya seringki kalah oleh kebiasaan. Cek tekanan darah, kendalikan gula darah, turunkan kolesterol sesuai resikonya, berhenti merokok, bergerak lebih rutin, tidur cukup, jaga berat badan, periksa bila sering berdebar.
Kontrol rutin kalau udah punya penyakit kronis. Dan yang tidak kalah penting, minum obatnya sesuai anjuran dokter. Banyak orang takut obat jangka panjang tapi tidak takut tekanan darahnya itu 180-an yang dibiarkan bertahun-tahun. Padahal obat yang tepat bukan tanda tubuh kita lemah. Justru itu bagian dari strategi supaya tubuhnya tidak dipaksa bertarung sendirian setiap hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....