Brugada Syndrome, Penyakit Jantung Langka yang Perlu Diwaspadai
- 30 Mei 2026 14:20 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna – Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyakit yang harus diwaspadai masyarakat karena dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal usia. Salah satu penyakit jantung yang cukup langka adalah Brugada Syndrome,
Berdasarkan laman dari alodokter.com, Sindrom Brugada merupakan gangguan irama jantung akibat kelainan genetik atau mutasi gen yang berfungsi menjaga irama jantung tetap normal. Penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala, namun dapat menyebabkan gangguan detak jantung hingga henti jantung mendadak. Pada beberapa kasus, penderita dapat mengalami keluhan seperti jantung berdebar dan sesak napas akibat jantung tidak mampu memompa darah secara optimal. Meski tergolong langka, Sindrom Brugada menjadi salah satu penyebab kematian mendadak pada bayi hingga orang dewasa dan umumnya diturunkan dari salah satu orang tua.
Seorang warga yang berdomisili di Natuna bernama Oki Alda atau biasa dipanggil Oki membagikan pengalamannya setelah didiagnosis mengidap Brugada Syndrome. Ia mengaku awalnya tidak mengetahui bahwa gejala yang dirasakan merupakan tanda gangguan jantung serius, karena gejalanya muncul secara perlahan dan kerap dianggap kelelahan biasa.
Okky mengatakan dirinya pertama kali mulai merasakan gangguan pada usia sekitar 35 tahun pada tahun 2029. Saat itu ia mengalami nyeri di bagian dada yang terasa seperti disayat atau tertusuk, kemudian rasa sakit tersebut menjalar hingga ke tangan kiri dan rahang kiri.
Menurutnya, gejala tersebut tidak boleh dianggap sepele karena bisa menjadi tanda awal penyakit jantung yang berbahaya. Ia mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke rumah sakit apabila mengalami nyeri dada yang menjalar ke punggung, tangan kiri, hingga rahang.
“Kalau sudah terasa nyeri dada sampai menjalar ke tangan kiri dan rahang, langsung periksa ke rumah sakit. Jangan ditunda atau disepelekan karena penyakit jantung ini seperti bom waktu,” ungkap Oki.
Berdasarkan penjelasan dokter yang menanganinya, Brugada Syndrome termasuk penyakit langka yang dapat dipengaruhi faktor keturunan atau genetik. Namun apabila tidak ditemukan riwayat keluarga sebelumnya, maka penderita kemungkinan menjadi pembawa genetik pertama dalam keluarganya.
Untuk penanganan penyakit tersebut, Okky dijadwalkan menjalani pemasangan alat Automatic Cardioverter Defibrillator (ACD). Alat tersebut berfungsi membantu sistem kelistrikan jantung dan memberikan respons otomatis apabila terjadi gangguan irama jantung yang membahayakan.
Ia menjelaskan alat tersebut bekerja hampir seperti alat pacu jantung. Ketika detak jantung mengalami gangguan atau melemah, alat akan membantu mengembalikan ritme jantung agar tetap stabil dan mengurangi risiko henti jantung mendadak.
Meski demikian, proses pemasangan alat membutuhkan waktu antrean yang cukup panjang. Okky mengaku harus bolak-balik dari Natuna ke Jakarta setiap tahunnya untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.
Menurut informasi yang diterimanya dari pihak dokter, pasien dengan kondisi tertentu bisa mendapatkan prioritas pemasangan lebih cepat. Namun secara umum antrean pemasangan alat dapat memakan waktu hingga satu sampai dua tahun tergantung kondisi pasien dan ketersediaan alat.
Di tengah proses pengobatan yang dijalaninya, Okky tetap berusaha semangat dan menjaga kondisi kesehatannya. Ia berharap pengalamannya dapat menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan jantung serta tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami gejala yang mencurigakan.
Selain rutin memeriksakan kesehatan, masyarakat juga diimbau menjaga pola hidup sehat untuk mengurangi risiko penyakit jantung. Pola makan seimbang, olahraga teratur, istirahat cukup, dan menghindari stres menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung sejak dini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....