Nyeri Dada, Asam Lambung atau Serangan Jantung
- 21 Jun 2026 13:18 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID,Natuna - Saat mengalami nyeri dada, sebaiknya jangan langsung menyimpulkan dan mendiagnosis diri dengan penyakit ini dan itu. Sebab, sama halnya seperti sakit kepala atau demam, nyeri dada juga merupakan gejala dari berbagai kemungkinan kondisi kesehatan, baik fisik maupun psikis. Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP :
Banyak pasien mengeluhkan dadanya terasa panas dan saat ditekan seperti tertimpa beban berat, setelah dua jam sebelumnya makan sate kambing dengan porsi yang cukup banyak. Dan tidak sedikit yang mengira kondisi tersebut adalah penyakit lambung. Sudah minum obat tapi tidak membaik, rasa tidak nyaman justru makin berat dan menjalar ke lengan kiri dan hasil EKG-nya menunjukkan tanda iskemia di bagian kiri depan. Nmaun disisi lainnya ada juga pasien yang sangat panik karena dadanya terasa panas setelah makan pedas, lalu membayangkan skenario terburuk. Setelah diperiksa, EKG-nya normal, enzim jantungnya normal, dan keluhannya lebih sesuai dengan reflak asam lambung.
Jadi memang dua kondisi ini bisa sangat mirip, tetapi mekanismenya berbeda jauh. Nyeri dada akibat jantung biasanya berkaitan dengan gangguan aliran darah ke otot jantung. Sifatnnya sering digambarkan seperti ditekan, dihimpit, atau terasa berat. Lokasinya di tengah dada atau agak ke kiri, bisa menjalar ke lengan kiri, leher, rahang atau ke punggung. Sering disertai dengan keringat dingin, mual, atau sesak. Nyeri karena asam lambung atau gerd biasanya terasa panas seperti terbakar yang munculnya setelah makan. Terutama makanan yang berlemak, pedas, atau dalam porsi yang besar. Seringki memburuk saat berbaring atau membungkuk. Kadang terasa sampai ketenggorokan disertai rasa asam atau pahit di mulut.
Tubuh manusia tidak selalu membaca buku teks kedokteran. Ada pasien jantung yang hanya merasa tidak enak diuluh hati, dan ada pula pasien lambung yang merasa nyerinya di dada kiri, nah di sinilah pentingnya kita tidak terlalu cepat menyimpulkan sendiri. Salah satu pembeda penting adalah hubungannya dengan aktivitas. Nyeri di jantung seringki muncul saat aktivitas fisik atau stres emosional lalu membaik dengan istirahat. Misalnya saat naik tangga terasa berat, berhenti sebentar terasa ringan. Nah, ini pola klasik angina. Sedangkan nyeri lambung lebih sering berkaitan dengan pola makan. Setelah makan besar langsung tiduran, dadanya terasa panas, dan bangun minum air hangat sedikit membaik, namun tetap saja ini bukan aturan yang mutlak, dan durasi nyeri juga bisa memberikan petunjuk.
Serangan jantung biasanya menyebabkan nyeri lebih dari 15 sampai 20 menit dan tidak membaik dengan istirahat biasa. Nyeri otot dada biasanya terasa tajam, bisa ditunjuk dengan satu jari, dan bertambah sakit saat ditekan atau saat bergerak. Pada pasien dengan faktor resiko seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, atau riwayat keluarga dengan penyakit jantung, ambang kecurigaan harus lebih rendah. Jangan terlalu percaya diri mengatakan ini hanya lambung. Ada juga kondisi lain seperti misalnya serangan panik yang bisa meniru gejala jantung. Dada terasa sesak, jantung berdebar, tangan terasa dingin. Bedanya pada panic attack sering disertai rasa takut yang luar biasa, nafas yang cepat, dan hasil pemeriksaan jantung yang normal. Tetap saja diagnosis ini ditegakkan setelah penyebab jantung disingkirkan.
Pada wanita dan penderita diabetes, gejala serangan jantung bisa lebih atipikal, tidak selalu nyeri dada hebat, bisa hanya lelah ekstrem, mual, atau nyeri punggung. Nah, ini yang sering membuat keterlambatan diagnosis, karena itulah jika ada nyeri dada yang baru pertama kali dirasakan, terasa berbeda dari biasanya, berlangsung lebih dari 15 menit disertai keringat dingin, mual, atau sesak, jangan tunda untuk periksa terutama jika memiliki faktor resiko. Banyak pasien datang terlambat karena mencoba menunggu di rumah, ada yang minum obat maag berulang-ulang, ada yang dipijat, dan ada yang berharap hilang sendiri. Padahal pada serangan jantung waktu adalah otot. Setiap menit keterlambatan berarti lebih banyak sel jantung yang mati. Di sisi lain tidak semuanya di dada berarti jantung. Nah, itulah gunanya evaluasi medis. Kita tidak ingin orang hidup dalam ketakutan setiap kali dadanya terasa tidak nyaman. Yang kita inginkan adalah kewaspadaan yang rasional. Untuk mencegah kebingungan di masa depan, kenali faktor resiko Anda. Cek tekanan darahnya secara rutin, periksa kolesterol dan gula darah. Jika Anda memiliki keluhan berulang misalnya nyeri dada terasa berat saat aktivitas, lakukan evaluasi lebih lanjut seperti treadmill test atau pemeriksaan lain sesuai indikasi. Bagi yang memang memiliki gerd, atur pola makan, hindari makan besar menjelang tidur, kurangi makanan berlemak dan pedas berlebihan, dan jaga berat badan ideal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....