Bayi Jarang Menangis? Waspada Sinyal Gangguan Fokus
- 05 Mei 2026 09:22 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Pernahkah Anda membayangkan bahwa seorang bayi bisa didiagnosis kesehatan mentalnya bahkan sebelum mereka bisa bicara? Psikolog senior Sani Budiantini Hermawan, S.Psi dalam diskusinya di Siniar Hoho-Hihi on the Weekend mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa deteksi dini gangguan fokus seperti ADHD bisa dipantau sejak usia bayi, sebuah terobosan yang mengubah cara pandang kita terhadap pola asuh modern.
Sebagai spesialis anak dan remaja Sani menekankan bahwa perilaku buah hati bukan sekadar faktor kebetulan. Fokus utamanya adalah membedah akar masalah perilaku dan konsentrasi yang sering kali luput dari pengamatan orang tua karena dianggap sebagai fase pertumbuhan biasa.
Indikasi gangguan seperti ADHD ternyata dapat terbaca lewat respons sederhana, seperti frekuensi tangisan atau bagaimana mata bayi mengikuti objek. Jika seorang bayi jarang menangis atau tidak bereaksi terhadap stimulasi visual, hal itu bisa menjadi sinyal awal adanya masalah pada fokus mereka.
Menariknya, penanganan gejala ini tidak melulu soal terapi medis yang berat, melainkan bisa dimulai dari pengaturan nutrisi. Sani menyarankan diet khusus seperti pembatasan tepung-tepungan dan pemilihan kandungan susu yang tepat sebagai langkah awal stimulan pertumbuhan otak yang optimal.
Namun, kesehatan mental anak tidak dimulai saat mereka lahir, melainkan sejak berada dalam dekapan rahim ibu. Pengelolaan emosi sang ibu selama masa kehamilan menjadi fondasi krusial yang menentukan bagaimana karakter dan mentalitas sang cabang bayi terbentuk nantinya.
Sani juga memberikan "tugas khusus" bagi para calon ayah untuk tidak menjadi penonton pasif selama masa kehamilan. Ayah diwajibkan melakukan bonding aktif, seperti mengajak janin berbicara atau berpamitan saat akan bekerja, guna membangun koneksi batin yang kuat sebelum persalinan.
Langkah ini bertujuan agar sosok ayah tidak merasa asing saat bayi lahir dan menghadapi tantangan merawat anak yang baru lahir. Dengan keterlibatan emosional sejak dini, sinergi antara ayah, ibu, dan anak akan menciptakan ekosistem keluarga yang sehat secara psikis dan mental.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....