Benarkah Garam Satu Satunya Penyebab Hipertensi

  • 31 Jul 2026 20:37 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID,Natuna - Benarkah garam adalah satu-satunya penyebab hipertensi? Berikut penjelasan dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari klinik Kiera dr Erta, Sp. JP akun Yutube @DrErtaSpJP :

Memang betul garam memiliki peran besar, tapi kalau kita hanya memusuhi garam tanpa melihat faktor lainnya, maka itu ibarat kita menyalahkan bahan yang bocor, padahal mesin mobilnya itu memang sudah rongsokan sejak awal.

Banyak dari kita yang merasa hidupnya sudah sehat hanya karena sudah berhenti menaburkan garam tambahan di atas bubur ayam. Padahal masalah utamanya seringki bukan pada garam yang bisa kita lihat, melainkan pada garam yang tersembunyi dengan sangat rapi dalam berbagai macam makanan, seperti misalnya saus sambal, kecap manis, bahkan di dalam roti tawar yang Anda makan pada pagi hari.

Di dalam tubuh kita, garam itu sifatnya seperti spons yang menarik air, kalau spons ini terlalu banyak di dalam pembuluh darah, maka volume cairan dalam darah akan meningkat sehingga jantung akhirnya harus memompa lebih keras. Nah, itulah sebabnya tekanan darah bisa melonjak. Tapi ingat, garam hanyalah salah satu pemain dalam tim sepak bola yang bernama gaya hidup tidak sehat.

Faktor kedua yang sering dilupakan dan jauh lebih berbahaya adalah stres yang tidak dikelola, yang seringki menyerang diam-diam saat Anda sedang terjebak macet atau memikirkan cicilan yang belum lunas. Saat kita mengalami stres, tubuh kita akan melepaskan hormon yang membuat pembuluh darah menyempit secara otomatis.

Jadi, percuma saja Anda makan makanan tawar tanpa rasa, kalau setiap hari perasaan Anda seperti sedang dikejar-kejar harimau karena tuntutan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Kita seringki terlalu fokus pada apa yang masuk ke mulut, tapi lupa untuk menjaga apa yang berkecamuk dalam pikiran kita. Padahal keduanya itu punya pengaruh yang sama kuatnya terhadap kesehatan jantung.

Kemudian ada faktor kurang gerak atau yang sekarang disebut sebagai gaya hidup kaum rebahan yang sangat hobi nonton maraton serial film sambil ngemil kripik. Nah, pembuluh darah kita itu butuh dilatih agar seperti karet yang masih baru, bukan seperti pipa air yang sudah berkerak dan kaku karena lama tidak dialiri tekanan darah. Nah, kalau Anda jarang bergerak, maka pembuluh darah Anda akan kehilangan elastisitasnya, dan ketika itu terjadi, tekanan darah Anda akan naik dengan sendirinya tanpa peduli seberapa sedikit garam yang Anda konsumsi hari itu. Jadi, menyalahkan garam saja itu tidak adil bagi si garam yang mungkin hanya menjalankan tugasnya sebagai penyedap rasa.

Lalu jangan lupa juga soal berat badan berlebih yang membuat jantung kita bekerja seperti mesin motor yang dipaksa menarik beban besar. Jantung Anda harus memompa darah ke tubuh yang lebih luas dan jaringan lemak yang lebih banyak sehingga tekanannya mau tidak mau harus naik agar darahnya sampai ke tujuan.

Kalau mesinnya dipaksa bekerja di atas kemampuannya setiap hari, maka jangan kaget. Kalau suatu saat mesin itu panas berlebih atau bahkan mogok di tengah jalan, jantung yang normal itu adalah ototnya tipis. Tapi kalau misalnya tensinya tinggi terus orangnya kegemukan, ototnya akan menembal. Jadi jika sudah begini maka menurunkan sedikit saja beban tubuh Anda sebenarnya jauh lebih efektif menurunkan tensi dibandingkan hanya dengan menghindari satu butir garam di meja makan.

Terakhir, ada faktor genetik yang memang sudah jadi warisan dari orang tua kita. Tapi bukan berarti kita harus pasrah dan menyerah begitu saja pada keadaan, genetik itu ibarat pistol yang sudah diisi peluru, tapi gaya hidup kitalah yang sebenarnya menarik pelatuknya. Kalau Anda tahu ada riwayat darah tinggi di keluarga, maka Anda harus dua kali lebih waspada dibandingkan orang lain dalam menjaga keseimbangan nutrisi dan aktivitas fisik.

Jadi mulai sekarang jangan hanya memusuhi garam, tapi mulailah berteman dengan olahraga dan tidur yang cukup yang seringki menjadi obat paling murah namun paling susah dilakukan. Hipertensi itu adalah hasil kolaborasi dari berbagai kebiasaan buruk yang menumpuk selama bertahun-tahun, bukan hanya karena satu piring makanan yang terlalu asin semalam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....