Rokok dan Tulang Belakang: Ancaman yang Kerap Diabaikan

  • 11 Feb 2026 10:52 WIB
  •  Ranai

RRI.CO.ID, Natuna - Selama ini, bahaya rokok lebih sering dikaitkan dengan penyakit paru-paru dan gangguan jantung. Namun, temuan klinis terbaru menunjukkan bahwa dampak rokok tidak berhenti di sana. Pakar bedah saraf, dr. Asadullah, SpBS, F-TB, menegaskan bahwa kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor utama yang mempercepat kerusakan tulang belakang secara permanen.

Dalam diskusi di kanal YouTube Abdel Achrian, dr. Asadullah menjelaskan bahwa merokok berkontribusi besar terhadap proses degenerasi dini tulang belakang, bahkan pada usia yang relatif muda. Kerusakan ini sering kali luput dari perhatian karena berlangsung perlahan dan tanpa gejala spesifik pada tahap awal.

Secara anatomi, tulang belakang dilengkapi bantalan antar ruas (diskus) yang berfungsi sebagai peredam kejut sekaligus penopang fleksibilitas gerak. Bantalan ini sangat bergantung pada pasokan nutrisi melalui aliran darah yang optimal.

Dr. Asadullah menjelaskan, Pada orang yang perokok, aliran darah ke bantalan sendi itu berkurang. Akibatnya, bantalan tersebut menjadi lebih cepat menua, kering, dan aus.”

Ketika bantalan kehilangan elastisitas dan kadar cairannya menurun, tulang belakang tidak lagi terlindungi secara maksimal. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya Hernia Nukleus Pulposus (HNP) atau saraf kejepit, yang kerap ditandai nyeri menjalar dari pinggang hingga ke tungkai.

Yang perlu menjadi perhatian serius, degenerasi tulang belakang akibat rokok tidak hanya dialami kelompok lanjut usia. Kombinasi antara kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, serta postur duduk yang buruk membuat banyak individu usia muda mengalami nyeri pinggang kronis. Pada pemeriksaan pencitraan seperti MRI, kondisi tulang belakang mereka kerap tampak lebih “tua” dibandingkan usia biologisnya.

Untuk menekan risiko kerusakan saraf dan tulang belakang dalam jangka panjang, dr. Asadullah merekomendasikan beberapa langkah preventif yang bersifat fundamental:

1. Berhenti merokok, guna memulihkan sirkulasi darah ke jaringan tulang belakang.

2. Melatih otot inti (core muscle) agar beban tubuh tidak sepenuhnya ditopang oleh tulang belakang.

3. Memenuhi kebutuhan cairan, mengingat bantalan tulang sebagian besar tersusun dari air.

Ia menambahkan, Hanya sekitar 10–20% kasus nyeri pinggang yang benar-benar saraf kejepit, tapi kalau gaya hidupnya buruk seperti merokok terus-menerus, risiko operasi di masa depan akan semakin besar.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa menjaga kesehatan tulang belakang bukan semata urusan usia, melainkan hasil dari pilihan gaya hidup yang konsisten sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....