"Mengadopsi Harapan dari Dasar Laut Natuna"
- 21 Jul 2026 07:35 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID, Natuna - Hamparan laut Natuna yang biru menyimpan kekayaan yang tak selalu tampak dari permukaan. Di balik riak ombaknya, terbentang taman bawah laut yang menjadi rumah bagi beragam jenis ikan, kerang, penyu, hingga biota laut lainnya. Terumbu karang menjadi fondasi kehidupan di ekosistem tersebut.
Namun, keindahan itu kini menghadapi ancaman. Di sejumlah lokasi, terumbu karang mengalami kerusakan mulai dari yang ringan hingga berat. Dari beberapa pengamatan yang dilakukan oleh unsur Pemerintah Daerah maupun Lembaga pecinta lingkungan Bahari kerusakan yang terjadi di sebabkan oleh berbagai factor.
Rusaknya terumbu karang di laut Natuna dimungkinkan akibat aktivitas manusia. Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, jaring yang menyeret dasar laut, sampah, hingga dampak perubahan iklim menjadi penyebab berkurangnya tutupan karang yang sehat.
Hasil kajian yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup kabupaten Natuna pada tahun 2023 melihat kerusakan terumbu karang berdampak terhadap terjadinya abrasi pantai. Sebelumnya pada tahun 2018 lalu, tim monitoring dari Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjung Pinang menyimpulkan bahwa status kerusakan terumbu karang di laut Natuna masih dalam taraf sedang.
Namun dalam perkembangannya hingga di pertengahan tahun 2026 ini, di sejumlah tempat perairan Natuna mengalami kepunahan. Kondisi ini tentunya menuntut perhatian dari siapapun yang melihat laut sebagai aset besar yang akan diwariskan ke anak cucu.
Adalah Lembaga Pengelola Sumber Daya Pesisir atau LPSDP sebagai salah satu LSM yang senantiasa memberikan perhatiannya terhadap ekosistem laut Natuna. Ketua LPSDP Natuna, Cherman dengan rasa prihatinnya melihat ambang kerusakan terumbu karang di laut Natuna sudah sangat mengkhawatirkan.
“ Bukan hanya Bom, Bius tapi juga aktivitas yang lain banyak ya mempengaruhi seperti sampah limbah ya...termasuk pemanasan global. Nah kita masuk di 15 meter pertama pesisir Natuna itu terumbu karang sudah banyak yang mati juga" Ujar Cherman kepada RRI
Ya... terumbu karang bukan sekadar batu berwarna-warni di dasar laut. Terumbu karang adalah tempat ikan berkembang biak, mencari makan, dan berlindung. Ketika karang rusak, kehidupan laut pun ikut terganggu.
Diperlukan waktu yang lama untuk dapat melihat tumbuh kembangnya terumbu karang hingga masa puluhan tahun. Dampak yang dirasakan dari banyaknya kerusakan terumbu karang adalah hasil tangkapan nelayan yang terus menurun serta terancamnya keseimbangan ekosistem di laut Natuna.
“ Dengan kondisi di Laut Natuna juga terutama laut di bagian Utara dan Timur Laut ya, kita sudah survei kemaren, memang rata-rata di kedalaman 60, 80 itu dasarnya itu lumpur pasir dan karang karang itu banyak jenis gorgonian, jenis karang lembut dan mudah lepas. Itu tumbuhnya sangat lama. bisa jadi 20 tahun tumbuhnya hanya 4 centi" Ujarnya lagi .
Di tengah tantangan akan meluasnya kerusakan terumbu karang di laut Natuna secercah harapan hadir dari tangan-tangan yang peduli terhadap kelestarian laut. Komunitas pecinta lingkungan bersama para relawan mulai melakukan transplantasi terumbu karang di beberapa titik perairan Natuna. Bibit-bibit karang ditanam pada media khusus, lalu dirawat agar dapat tumbuh menjadi habitat baru bagi biota laut.
Upaya ini memang tidak bisa dilakukan sendiri. Karena itu lahirlah program Adopsi Terumbu Karang. Program adopsi itulah yang saat ini juga sudah mulai dirintis melalui sektor pariwisata yang dilakukan oleh Natuna Dive Resort.
Natuna Dive Resort sendiri bisa dikatakan sebagai salah satu Hotel dan resort yang menyadari akan perlunya keterlibatan mereka dalam mendukung berkembangnya sektor Pariwisata Natuna. Menurut GM Natuna Dive Resort,Dery Mario, sejak beberapa tahun terkahir dalam setiap kesempatan, pihaknya menawarkan para tamu yang menginap untuk bersedia menjadi bapak adopsi dari terumbu terumbu karang.
" Kami memberikan seperti edukasi kepada tamu, jadi bagi tamu tamu yang ingin mendonasikan atau bahasa kami tu adopsi karang....itu nanti namanya akan ditulis, lalu bibit terumbu karang itu akan kami transplantasi ke laut " Ujar Dery Mario dalam dialognya dengan RRI Ranai pada Jum'at 17 Juli 2026.
Melalui program ini, masyarakat, pelaku usaha, instansi pemerintah, maupun siapa saja dapat menjadi "bapak" atau "orang tua asuh" bagi terumbu karang. Kontribusi yang diberikan digunakan untuk penanaman, pemeliharaan, serta pemantauan pertumbuhan karang.
"Kita bisa jelaskan kenapa program ini dilakukan, terus terang karena dampak pemanasan global jadi terumbu karang itu sudah mulai kenak pemutihan.....jadi kami membantu transplantasi ulang beberapa daerah terumbu karang yang kena dampak itu " Ujar Mario lagi.
Setiap karang yang diadopsi bukan sekadar simbol kepedulian. Ia adalah investasi bagi masa depan laut Natuna. Semakin banyak karang yang tumbuh, semakin besar pula peluang ikan kembali berkembang, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat pesisir dan generasi yang akan datang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....