Menjemput Rezeki di Tengah Puasa
- 28 Feb 2026 14:17 WIB
- Ranai
RRI.CO.ID,Natuna - Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda di setiap sudut kampung pesisir. Saat waktu sahur tiba , warga memulai hari dengan sahur sederhana bersama keluarga. Namun selepas itu, denyut kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti. Di tengah kewajiban menahan lapar dan dahaga, aktivitas mencari nafkah tetap berjalan seperti hari-hari biasa bahkan bagi sebagian orang, justru terasa lebih berat.
Di kampung nelayan, perahu-perahu kayu masih setia mengarungi laut. Angin asin dan debur ombak menjadi sahabat sehari-hari. Ramadan bukan alasan untuk berhenti melaut. Sebab bagi para nelayan, laut adalah dapur utama keluarga.
Salah satunya adalah Iskandar Zulkarnain Lubis Nelayan Desa Batu Gajah Kecamatan Bunguran Timur. Pria paruh baya ini tetap setia menantang gelombang meski tubuhnya tengah berpuasa. Kepada RRI, Iskandar menuturkan bahwa bekerja di laut saat Ramadan memiliki tantangan tersendiri.
“Kalau melaut di bulan puasa, tantangannya lebih terasa. Selain menahan haus di bawah terik matahari, kita juga harus kuat menahan goyangan gelombang,” ujarnya Sabtu 28 Febuari 2026.
Rutinitas Iskandar kerap dimulai saat matahari mulai terbenam. Ia berangkat ketika langit memerah di ufuk barat, membawa harapan yang sama setiap hari: pulang dengan hasil tangkapan yang cukup untuk menghidupi keluarga. Ia baru kembali ke darat setelah matahari terbit, ketika sebagian warga tengah bersiap menjalani aktivitas pagi.
Di atas perahu kecilnya, Iskandar mengulur tali pancing dengan harapan mendapat balasan dari tarikan ikan . Terkadang hasilnya melimpah, terkadang hanya cukup untuk sekadar menutup kebutuhan hari itu. Ikan hasil tangkapan kemudian ia jual berkeliling kampung. Ia memilih menjual langsung agar harga tetap stabil dan bisa dijangkau warga.
“Per kilo saya jual dua puluh ribu rupiah, jenis mahan. Yang penting cepat habis dan bisa mutar modal lagi,” katanya.
Harga yang tidak terlalu tinggi itu menjadi bentuk kepeduliannya kepada sesama warga kampung. Di bulan Ramadan, kebutuhan dapur meningkat. Ia memahami betul bagaimana rasanya harus menyiapkan hidangan berbuka, sahur, hingga menyisihkan sedikit untuk persiapan Lebaran.
Menahan dahaga di laut bukan perkara mudah. Saat matahari meninggi, pantulan cahaya dari permukaan air terasa menyengat. Angin yang berembus tak selalu membawa kesejukan. Namun bagi Iskandar, kelelahan itu seakan terbayar ketika melihat senyum anak-anaknya saat berbuka puasa bersama.
Baginya, momen berbuka adalah waktu yang paling dinanti. Meski tubuh letih, ia berusaha pulang tepat waktu agar bisa duduk bersama keluarga di ruang makan sederhana mereka.
“Capek pasti ada, tapi kalau bisa buka sama keluarga, rasanya beda,” tuturnya pelan.
Tidak hanya mengandalkan hasil laut, Iskandar juga membantu istrinya membuat kerupuk di sela-sela waktu istirahat. Kerupuk itu dijual untuk menambah penghasilan keluarga. Aktivitas tersebut biasanya dilakukan siang hari atau setelah ia beristirahat dari melaut.
Di dapur kecil rumahnya, suara adonan yang digiling dan minyak yang mendesis menjadi harmoni tersendiri. Ramadan memang menambah pengeluaran rumah tangga. Selain kebutuhan harian, ada pula persiapan menyambut Hari Raya Idulfitri yang harus dipikirkan sejak dini.
Bagi keluarga Iskandar, tambahan penghasilan dari kerupuk sangat berarti. Uang itu bisa digunakan untuk membeli pakaian anak-anak atau sekadar menyimpan sedikit tabungan untuk kebutuhan mendesak. Semua dilakukan dengan penuh kesabaran dan kerja sama antara suami dan istri.
Kehidupan nelayan di bulan puasa adalah gambaran keteguhan hati. Mereka tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan lelah, panas, dan ketidakpastian hasil tangkapan. Namun semangat untuk memberi harapan ekonomi bagi keluarga membuat mereka terus bertahan.
Ramadan bagi Iskandar bukan sekadar bulan ibadah, melainkan juga bulan perjuangan. Ia percaya setiap tetes keringat yang jatuh di laut akan menjadi berkah jika diniatkan untuk keluarga.
Di tengah gelombang yang tak selalu bersahabat, ia belajar tentang kesabaran. Di bawah terik matahari, ia belajar tentang keteguhan. Dan di meja makan saat azan Magrib berkumandang, ia menemukan makna syukur yang sederhana.
Kisah Iskandar adalah potret kecil dari ribuan pekerja yang tetap beraktivitas di bulan suci. Dari nelayan, pedagang, buruh, hingga pekerja harian semuanya memiliki cerita tentang perjuangan dan harapan.
Ramadan mungkin membatasi waktu makan dan minum, tetapi tidak pernah membatasi semangat untuk mencari nafkah. Justru di bulan inilah, makna kerja keras terasa lebih dalam: bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menghadirkan kebahagiaan sederhana bagi orang-orang tercinta.
Di ujung kampung pesisir itu, ketika senja kembali datang dan perahu-perahu bersiap berlayar, Iskandar kembali menatap laut dengan keyakinan yang sama. Selama ombak masih bisa diarungi dan jaring masih bisa ditebar, harapan akan selalu ada.
Dan Ramadan pun menjadi saksi, bahwa di balik lapar dan dahaga, ada ketulusan dan perjuangan yang tak pernah berhenti.