Melestarikan dan Menjaga Keaslian Madu Natuna
- 11 Feb 2026 13:25 WIB
- Ranai
RI.CO.ID, Natuna- Berbicara tentang potensi alam di Kabupaten Natuna seakan tidak ada habis-habisnya. Dari mulai hasil laut yang kaya akan berbagai jenis ikan serta kandungan minyak dan gas bumi didalamnya hingga keindahan panorama wisata alamnya.
Belum lagi berbicara tentang potensi di daratan Natuna yang terbagi dalam gugusan pulau dengan 17 wilayah kecamatan saat ini. Meskipun luas daratannya hanya sekitar 2 ribu km persegi lebih, dan jauh dari luas lautnya yang mencapai 264 ribu km lebih, namun beragam potensi alam terdapat didalamnya.
Selain dikenal memiliki potensi besar dalam tanaman seperti kelapa, durian, cengkeh, dan buah-buahan tropis, Natuna juga bisa dikatakan kaya dengan hasil madu alamnya. Banyak hasil madu dari daerah ini yang sudah dirasakan dan dinikmati oleh para warga dari luar sebagai oleh oleh khas Natuna.
Hasil madu dari Natuna banyak diproduksi secara alami oleh warganya yang tinggal di Pulau Bunguran seperti di Kecamatan Bunguran Timur dan Bunguran Timur laut serta sejumlah kecamatan lainnya. Warga pencari madu lebah biasanya melakukan pengambilan dengan melakukan pemantauan di kawasan hutan hutan yang memiliki banyak pohon pohon rindang.
Sebut saja bang Kadar, warga asal desa Sepempang Kecamatan Bunguran Timur ini sudah puluhan tahun menekuni profesi sebagai pencari madu. Ia mengaku sejak tahun 1995 silam sudah mulai menekuni pekerjaan tersebut dengan masuk kekawasan hutan-hutan disekitarnya.
Dengan pengalamannya, pria paruh baya berusia sekitar 52 tahun ini dapat disebut ahli dalam menjinakan lebah lebah yang berada disarangnya. Tidak terhitung lagi berapa liter madu yang sudah dihasilkan dan dipasarkannya kepada pembeli.
“ Awal mula saye mencari madu pada tahun 1995 itu dijual dengan harga sekitar 15 ribu rupiah untuk 2 botol,” Kata Kadar kepada RRI.
Seiring perkembangan saat ini, untuk 1 botol kecap berukuran besar, bang Kadar mematok harga madu produksinya dengan kisaran 125 ribu hingga 135 ribu rupiah. Para pembelinya biasanya kebanyakan dari warga setempat dan juga bahkan sebagai pesanan untuk dijadikan oleh-oleh.
Kecintaan dan hobinya berpetualang di hutan- hutan membuat ia sadar bahwa dalam mengambil madu lebah dari sarangnya tidak boleh serakah.
“Jika kite mengambil madu dari sarangnya bagusnya disisakan sedikit dari sarang sarang itu agar lebah lebah itu dapat beproduksi lagi… jadi jangan dimusnahkan semue ” Ujarnya.
Satu hal yang juga layak dipuji dari bang kadar adalah keteguhannya untuk tetap menjaga keaslian madu yang diproduksinya. Tanpa campuran apapun, ia ingin ikut menjaga nama produk madu dari Natuna dengan khasiat yang dapat bermanfaat bagi banyak orang.